Multifinance Lirik Pembiayaan KPR

MALANG- Lesunya ekonomi membuat sebagian perusahaan pembiayaan bermanuver guna menggenjot kinerja. Sebanyak 18 perusahaan multifinance diketahui tengah menjajaki kerjasama jual beli tagihan kredit pemilikan rumah (KPR) bersyarat (repo) dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).
Menurut Direktur Utama SMF Raharjo Adi Susanto, saat ini 18 perusahaan multifinance itu mulai tertarik masuk ke dalam bisnis penyaluran pinjaman KPR setelah melihat persaingan penyaluran kredit di bisnis otomotif dan alat berat mulai jenuh dan ketat.
"Memang selama ini mereka lebih mudah di bidang pembiayaan jangka pendek, namun kini kondisi persaingan otomotif semakin ketat, sedangkan di bisnis alat berat harganya jatuh terkerek rendahnya harga komoditas," ujar Raharjo.
Raharjo juga mengatakan saat ini sudah ada tiga perusahaan multifinance yang melakukan kerjasama lebih lanjut dengan SMF. Perusahaan itu antara lain, PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI), MNC Finance, Finansia Multifinance, Ciptadana Multifinance serta PT Tiara Marga Trakindo (TMT Grup) yang selama ini dikenal sebagai distributor alat berat merek Caterpillar asal Amerika Serikat.
Diketahui, perusahaan pembiayaan perumahan milik negara tersebut akan menyalurkan pinjaman kepada MNC Finance senilai Rp 100 miliar untuk tahun ini. Khusus untuk IMFI sendiri, SMF baru melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) atas penyaluran pinjaman.
"Indomobil sudah menyiapkan karyawannya untuk dilatih di bidang KPR dan tinggal masalah pencairan pinjamannya saja," katanya.
Selain persaingan bisnis yang mulai ketat, menurutnya, langkah para perusahaan multifinance untuk mendiversifikasi portofolio pembiayaan ke sektor properti merupakan respon dari peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai perluasan pembiayaan.
"Mereka melihat ini potensi bagi bisnis baru mereka, karena ini lebih panjang jangka waktunya sehingga portofolio-nya rada melambat," katanya.
Dia menjelaskan, pembiayaan dari sejumlah perusahaan multifinance tersebut masih sangat minim. Pasalnya, sebagian besar total pembiayaan yang disalurkan SMF dilarikan kepada sejumlah perbankan, baik bank pelat merah, Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan perbankan syariah. Secara portofolio, PT Bank Tabungan Negara Persero (BTN) memegang porsi pinjaman SMF paling besar, yakni 55 persen dari total portfolio. Sementara porsi terbesar kedua dipegang oleh Bank Syariah dan BPD yakni dengan porsi 10-25 persen. "Kalau multifinance paling hanya sekitar 1-2 persen saja," lanjutnya. (dtc/han)