Tren Tebus Emas di Pegadaian Meningkat

MALANG – Lesunya perekonomian tak berimbas pada minat masyarakat untuk mengoleksi perhiasan emas. Hal itu bisa dibuktikan dengan stabilnya penjualan emas di outlet hingga penebusan perhiasan di Pegadaian yang justru terjadi hingga akhir September lalu.
Deputi Pemimpin Wilayah Bidang Bisnis Area Malang Pegadaian, Elvi Rofiqotul Hidayah mengatakan, minat masyarakat akan perhiasan terhitung besar. Kondisi demikian terlihat dengan angka outstanding loan (0SL) dari Pegadaian, yang justru turun dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
OSL dari Pegadaian Malang hingga akhir September lalu sebesar Rp 482 miliar. Padahal, ketika Juli lalu atau menjelang lebaran, penyaluran OSL sudah mencapai Rp 496 miliar. Selisih sekitar Rp 14 miliar terjadi karena nasabah Pegadaian banyak yang menebus barang gadainya.
“Memang yang digadai tidak hanya emas. Tetapi, jika melihat prosentase penyaluran OSL didominasi emas, maka yang ditebus oleh nasabah juga emas dan kondisi ini yang terjadi antara Agustus dan September lalu,” papar Elvi kepada Malang Post.
Dia menuturkan, tingginya nasabah yang menebus emas mengungguli nasabah yang menggadaikan perhiasan. Padahal, jika melihat trend di tahun sebelumnya pasca lebaran, angka gadai emas terhitung tinggi.
“Justru berbalik di tahun ini. Nasabah banyak yang menebus emas dan sepertinya dana mereka sudah berlebih setelah lebaran dan tahun ajaran baru. Oktober ini potensi nasabah yang akan menebus emas juga terhitung tinggi,” urai dia panjang lebar.
Terpisah, Store Manager Goldmart Malang, Endriani Setiyaningsih Pratiwi menuturkan hal yang hampir senada. Pasalnya, average penjualan hingga akhir September lalu, masih sangat tinggi, baik emas 18 karat maupun emas murni 24 karat. “Sales masih sesuai target. Oktober kami masih bisa melampaui target Rp 200 juta dalam hal penjualan,” ujarnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Endri ini,  Goldmart menarget penjualan antara Rp 150 juta sampai dengan Rp 200 juta per bulan sepanjang semester dua tahun ini. Sebab, khususnya selepas lebaran trend berburu perhiasan  tidak bisa diduga.
“Apalagi di tahun ini melihat kondisi daya beli masyarakat turun. Ketika berhasil mencapai target, membuktikan jika minat akan membeli perhiasan masih bagus,” tambah dia.
Menurut dia, perhiasan memiliki dua fungsi utama ketika dibeli oleh customer. Selain sebagai pemenuh kebutuhan fashion, juga dengan tujuan investasi.
“Emas memang sangat pas untuk investasi. Kecenderungan harganya terus naik,” tambahnya.
Dia mengungkapkan, untuk sarana investasi ini pun customer bisa memilih emas dengan kandungan karat yang tinggi atau dalam jenis mulia atau tidak. Akan tetapi, diakui dia, emas 24 karat kini juga memili peminat yang besar. “Apalagi ketika modelnya sangat update dan berbeda. Bisa untuk bergaya dan juga mengamankan dananya dari pengeluaran tak terduga,” pungkas dia. (ley/oci)