Apersi Kejar Target Bangun 4.000 Rumah

MALANG – Di tengah lesunya bisnis properti di tanah air, pelaku bisnis rumah sederhana yang tergabung dalam Asosiasi Pengembangan Permukiman dan Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) masih tergolong beruntung dalam hal pembangunan. Di Malang, realisasi pembangunan rumah dengan tipe 36 ke bawah ini, mencapai 3.000 unit hingga triwulan ketiga 2015 ini.
Ketua Apersi Malang, Makhrus Sholeh mengatakan, saat ini target sudah tercapai mencapai 75 persen. Sepanjang tahun ini, Malang Raya mendapatkan target membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebanyak 4.000 unit. “Wilayah Malang termasuk tinggi dalam hal target pembangunan rumah bagi MBR, baik di tahun ini maupun tahun lalu. Prosentasenya lebih dari 10 persen dari total target Jawa Timur,” katanya.
Menurut dia, dari target itu, realisasi masih sesuai dengan yang ditentukan. Sekalipun distribusi tidak secepat tahun lalu dan 2013. “Dua tahun terakhir, target bisa tercapai Oktober. Tetapi sekarang masih belum,” beber dia kepada Malang Post.
Menurutnya, handicap sepanjang tahun ini terjadi banyak permasalahan dalam mewujudkannya. Misalnya, pengembang yang bertumbangan, harga tanah yang semakin naik serta kondisi ekonomi tanah air yang sulit dan turut mengurangi kemampuan calon user. “Meskipun berharga murah, jika calon user kami yang terserang kemampuan ekonominya, pengembang tidak bisa berbuat banyak,” papar dia.
Alhasil, pengembang dari 30 lebih pengembang rumah MBR, lebih dari 30 persen berhenti mengembangkan rumah tersebut untuk sementara waktu. Pasalnya, dari keuntungan berbisnis yang tidak besar, pengembang mesti menerima hal sulit lain seperti yang terjadi di tahun ini.
Pria yang merupakan bos developer Morse Indonesia ini menambahkan, satu kendala berikutnya yang terkadang luput yakni adanya biaya non resmi. Secara tidak disadari, besaran biaya itu bisa mencapai 10 persen dari total patokan biaya penjualan rumah MBR.
Dia menuturkan, di tahun ini target realistis untuk pembangunan di angka 90 persen dari total di awal tahun. Hal itu bisa terwujud jika antusias dari user tinggi serta produk yang dijual diketahui oleh calon user. Sedangkan dari sisi pengembang dan tim sales perumahan, harus kian intensef menawarkannya.
“Termasuk di tahun ini penjualan tidak hanya memanfaatkan kantor pemasaran. Beberapa pengembang membuka pusat informasi di tempat keramaian seperti SPBU hingga area yang padat dan kerap dilewati oleh masyarakat. Misalnya di pertigaan Kedungkandang,” tambahnya.
Sementara itu, di seluruh Jawa Timur, realisasi pembangunan rumah murah ini telah mencapai 15 ribu. Pencapaian itu masih tercapai 50 persen dari target 2015. “Secara angka, hingga akhir September lalu memang baru setengahnya. Sebab, tahun ini targetnya naik ketimbang tahun lalu hanya 20 ribu rumah,” ujar Sekjen Apersi Jatim Herman Widianto.
Menurut dia, secara nasional, pembangunan rumah MBR ini untuk mengejar angka backlog (kebutuhan rumah) di tanah air yang sudah mencapai 500 ribu rumah. Upaya mengejar itu, digapai dengan adanya program Sejuta Rumah yang digagas Apersi beberapa tahun terakhir.
Untuk persiapan tahun depan, diakui dia, Apersi akan mengejar PNS sebagai bidikan besar menemani MBR. Dua sasaran ini akan mendapatkan kemudahan dalam membeli rumah, seperti uang muka hanya 1 persen dan bunga KPR sebesar 5 persen. (ley/han)