Belanja Online Consumer Good Indonesia Masih Rendah

Kebiasan belanja konsumen saat ini juga terpengaruh dengan masuknya era digital. Menurut data dari Kantar Worldpanel e-commerce, pada 2025, e-commerce market untuk consumer good akan double dibandingkan dengan keadaan saat ini. Untuk beberapa negara, seperti Cina, kontribusi pembelian produk FMCG melalu online sekitar 15% dan di Korea sekitar 30%.

Berbeda halnya di Indonesia, dimana maraknya pembelian melalui online, biasanya untuk fesyen dan juga barang elektronik. Sedangkan pembelian online untuk pembelian produk consumer good masih cenderung sangat kecil. Konsumen masih lebih memilih untuk berbelanja konvensional dengan mendatangi pusat perbelanjaan.
Nadya Ardianti, Insight Director Kantar Worldpanel Indonesia memberikan tips yang bisa dilakukan oleh para pemain FMCG agar dapat memenangkan persaingan di pasar FMCG yang sangat ketat. Menurutnya, para pemain FMCG harus selalu menawarkan inovasi terhadap konsumen, mulai dari inovasi rasa, fungsi, kemasan, ukuran atau lainnya.  
“Tidak hanya inovatif, tetapi harus proaktif, di dalam memberikan penawaran terhadap konsumen,” ujarnya. Selain itu, pemain FMCG juga harus selalu berusaha untuk lebih dekat dengan konsumen, memahami profil konsumen, mengetahui kebutuhan konsumen, dan bagaimana perubahan kebiasaan konsumen didalam merespon situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini.
Mereka juga harus terus melakukan perekrutan calon pembeli, dan membuat brand mereka dipertimbangkan oleh pembeli. Tidak hanya “harga” yang menjadi faktor, tetapi brand equity juga mempunyai peranan yang penting di dalam merekrut calon pembeli. “Para pemain FMCG, juga harus selalu positif di dalam menghadapi situasi dan keadaan yang sulit, dengan mental yang positif akan membantu para pemain FMCG untuk lebih fokus terhadap tujuan jangka panjang,” tegasnya.
Untuk mempertahankan kinerja bisnis tetap tumbuh meski melambat, Andrew Ridsdale-Smith, Head, Regional Centre of Excellence Kantar Worldpanel memaparkan ‘resep’ agar sebuah merek atau produk dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan (sustainable growth).
“Yang utama adalah bagaimana meningkatkan jumlah pembeli (penetrasi) dari suatu produk. Semakin banyak suatu produk merekrut pembeli, semakin besar juga kemungkinan produk tersebut untuk mendapatkan calon pembeli yang loyal, begitu juga sebaliknya,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (20/10).
Pernyataan Andrew ini didukung oleh hasil penelitian Kantar Worldpanel dari interview dengan 11 CEO pemilik merek di Asia yang menunjukkan performa luar biasa. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa ada 5 faktor yang merupakan “tenaga pengungkit” (power lever) pertumbuhan dari merek-merek tersebut.
Pertama, ahli dalam bertransformasi. Merek-merek tersebut mampu berubah dari sekadar manufaktur yang hanya memproduksi barang menjadi perusahaan yang mampu membangun merek yang mengerti kebutuhan konsumen. Berikutnya, mempunyai tujuan mulia yaitu berperan aktif dalam membangun sebuah bangsa dengan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Ada juga yang terus berinovasi dengan standar kualitas global tanpa meninggalkan selera tradisional/lokal. Memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan kedekatan emosional dengan konsumen. Terakhir, mengombinasikan penggunaan data hasil riset dengan intuisi dalam merumuskan keputusan yang diambil.
Karena itu, untuk mencapai hal tersebut, ada tahapan yang harus dilalui agar suatu merek dapat tumbuh secara berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan membangun kesadaran akan produk, sehingga para calon pembeli akan mempertimbangkan untuk membeli produk tersebut.
Pada tahap ini, kata Andrew, faktor pengemasan produk, harga produk, tempat penjualan produk dan promosi berperan penting untuk memperbesar kemungkinan para calon pembeli untuk membeli produk. “Kepuasaan terhadap sebuah produk akan menjadikan pembeli tersebut loyal dan ingin melakukan pembelian selanjutnya,” tegasnya.
Andrew menyebut, ada dua strategi yang cukup efektif untuk meningkatkan loyalitas konsumen dan pendekatan efektif kepada pembeli baru (new trialist). Beriklan di media massa baik itu televisi maupun digital dan in store activation (kegiatan promosi di toko).
Meski touchpointnya berbeda, kata Andrew komunikasi produk harus jelas dan konsisten. Tujuannya agar persepsi dan alasan untuk membeli antara “pembeli baru”  maupun konsumen loyal, tetap sama. Konsistensi komunikasi ini menjadi kunci penting untuk menggaet ‘pembeli baru’ dan peningkatan loyalitas konsumen.
“Harus dicatat, kegagalan berkomunikasi yang menyebabkan perbedaan persepsi produk antara benak “pembeli baru” dengan  konsumen loyal dapat menyulitkan sebuah merek atau produk untuk meningkatkan penetrasi dan loyalitas,” ujarnya.
Andrew juga menyarankan agar para pemain FMCG selalu menawarkan inovasi, tidak hanya terpaku pada potensi penjualan.Ini untuk menjaga agar mereka terus dapat bersaing di kompetisi consumer goods.
Di sisi lain, Avinash Pareek dari Maxus menekankan agar para pemasar harus terus berinovasi di dalam penyajian iklannya sehingga menarik perhatian para konsumen. Pasalnya, materi iklan (content) akan sangat mempengaruhi perhatian para konsumen dan menjadi pemicu pertumbuhan iklan melalui digital.
“Dengan mengerti apa yang diinginkan oleh konsumen melalui iklan yang sifatnya eksklusif, nyaman dan original, para pemasar akan berhasil menarik perhatian konsumen,” pungkasnya. (jpnn/han)