Meski Melambat, Bisnis Consumer Good Tetap Tumbuh

MALANG POST - Di tengah kondisi perekonomian yang belum menggembirakan, pasar industri Fast Moving Consumer Good (FMCG) Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan meski sedikit melambat. Hasil riset Kantar Worldpanel Indonesia menunjukkan pertumbuhan consumer good di Indonesia tahun ini sebesar 7,4%.
Pertumbuhan ini menurun jika dibandingkan 2014 yang tumbuh mencapai dua digit yaitu 15,2%. Managing Director Indonesia, Vietnam and Philippine, Fabrice Carrasco menjelaskan, kondisi consumer good di Indonesia ini sejalan dengan hasil riset Kantar Worldpanel untuk pasar Asia. Bahwa pada 2013, secara keseluruhan pertumbuhan consumer good di Asia sekitar 10%. Sedangkan pada 2015, pasar FMCG menurun sekitar 4.6%.
“Perlambatan ini terjadi pada berbagai sektor consumer good, terutama sektor makanan dan minuman yang merupakan sektor paling besar di dalam pembelanjaan rumah tangga. Indonesia, Thailand dan Vietnam merupakan negara yang penurunannya terlihat sangat besar jika dibandingkan dengan tahun lalu,” ujar Fabrice Carrasco dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (20/10).
Meski demikian, pemain FMCG yang berasal dari Asia termasuk Indonesia, menunjukkan angka pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan para pemain global (Multi National Company/MNC). “Asia merupakan market yang unik, karena para pemain lokal yang mendominasi lebih banyak dibandingkan dengan para pemain global,” ujar Lim Soon Lee, General Manager Kantar Worldpanel Indonesia.
Lee memberikan contoh Indonesia dan Cina dimana para pemain lokalnya masih menunjukkan tingkat kontribusi lebih dari 60%. Angka ini merupakan pertumbuhan dua kali lipat dibandingkan dengan para pemain global.
Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan di industri FMCG ini juga memengaruhi kebiasaan berbelanja di rumah tangga Indonesia. Menurut data Kantar Worldpanel, ada kesamaan para rumah tangga di Asia termasuk Indonesia di dalam kebiasaan belanja mereka, yakni mengurangi frekuensi belanja namun meningkatkan kuantitas pembelian per pembelanjaan.
“Kategori yang dibeli tahun ini lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu. Jika tahun lalu rata-rata orang berbelanja sekitar 48 kategori, untuk tahun ini mereka berbelanja sekitar 46 kategori. Tampak sekali mereka lebih berhati-hati di dalam berbelanja,” ujar Nadya Ardianti, Insight Director Kantar Worldpanel Indonesia.
Karena itu, dengan berkurangnya frekuensi berbelanja tiap rumah tangga, pemain FMCG diharapkan untuk memastikan distribusi, ketersediaan barang, dan mempertahankan penempatan yang mudah diliat konsumen pada rak-rak retailer.
Hal lainnya terkait dengan tren konsumen yang lebih tertarik dengan berbagai promosi yang ditawarkan. Untuk beberapa negara Asia Tenggara yang memiliki persentase pusat perbelanjaan modern yang besar, konsumen cenderung untuk lebih tertarik dengan berbagai promosi yang ditawarkan, seperti halnya di Malaysia (dengan tingkat kontribusi Modern Trade yang lebih besar dari 60%).
Bahkan, menurut hasil riset di modern trade, pembelanjaan yang terjadi pada saat promosi di modern trade, terjadi sekitar 17% dari jumlah pembelanjaan dalam setahun. Pertumbuhannya meningkat sebesar 30% dibandingkan 2013. “Perubahan kebiasaan belanja dengan membeli packsize yang lebih besar telah terlihat dari tahun sebelumnya. Tetapi kini trennya terlihat menurun,” ujar Nadya.(jpnn/han)