Khas Lasem, Batik Empat Negeri Tembus Rp 2 Juta

MALANG – Indonesia memiliki banyak potensi yang menampilkan karya khas daerah, termasuk batik. Hampir di setiap wilayah terdapat perajin batik, yang memproduksi batik dengan motif beragam. Tak terkecuali Kabupaten Lasem yang memiliki koleksi batik dengan nama seperti tiga negeri atau empat negeri.
“Ada berbagai macam motif khas Lasem. Misalnya latohan, sekar jagad, watu pecah. Yang rumit seperti tiga negeri dan empat negeri,” ujar Perajin Batik Lasem, Masruah ditemui di stand pameran MOG, kemarin.
Pemilik Rizki Barokah Batik itu mengakui, beberapa motif, sesuai dengan kondisi geografis dari kabupaten tersebut. Sebagai wilayah yang berada di kawasan pesisir, motif yang diusung seperti buah dari tanaman yang hidup di tepi laut yang tersaji dalam motif latohan. Selain itu, motif watu pecah inspirasinya pada pembangunan jalan.
Menurut dia, Batik Lasem dipastikan berbeda dengan batik lain, terutama untuk jenis batik tulis. Pasalnya, motif akan menampilkan tingkat kerumitan tinggi dan berbagai macam warna, dalam satu lembar kain batik.
Misalnya dalam batik tiga negeri. Lima macam warna dipadukan dalam satu lembar kain batik yang dibandrol di atas Rp 1 juta. Sehingga, proses pembuatannya pun dipastikan panjang, bisa melebihi empat hari.
“Batik tulis memang lebih lama proses produksinya. Seperti batik tiga negeri, paling cepat empat hari, dengan motif yang kecil-kecil,” papar dia kepada Malang Post.
Dia menyebutkan, paling rumit pada jenis batik empat negeri. Pilihan ini, perajin menyajikan tujuh pilihan warna dalam satu lembar batik, harganya di atas Rp 2 juta. “Batik empat negeri, paling susah. Motif lebih padat, warna juga semakin banyak,” tegasnya.
Perempuan berkerudung ini menuturkan, untuk produksi di Rizki Barokah juga diwujudkan dalam bentuk pakaian. Misalnya kemeja dengan harga mulai dari Rp 200 ribuan. Orang dewasa, diakuinya menggemari batik, dengan motif tiga negeri dan empat negeri.
Sementara itu, juga bisa memilih kain batik dengan harga yang lebih terjangkau lagi. Misalnya dengan pilihan harga Rp 200 ribu per lembar dalam ukuran 2 meter dan tetap merupakan batik tulis. “Sebagian besar, produksi di Lasem merupakan batik tulis. Harganya memang lebih tinggi, tetapi ketika digunakan semakin lama akan semakin bagus,” pungkas dia. (ley/han)