Ekonomi Lesu, Pameran UKM Capai Target

MALANG – Sektor usaha kecil dan menengah (UKM) membuktikan diri jika bisnis ini termasuk tahan terhadap tekanan ekonomi. Ketika dalam beberapa bulan terakhir banyak bisnis tengah mengalami masa lesu, UKM masih terhitung bagus dalam hal penjualan. Terbukti, ketika pameran tahunan di Mall Olympic Garden (MOG), beberapa usaha kecil dari berbagai daerah ini mampu meraup pendapatan melebihi tahun lalu.
Owner Mutiara Lombok, Ani Dwi Rahmawati mengatakan, pameran di tahun ini hasilnya terhitung bagus. Terjadi pertumbuhan penjualan, sekalipun sebelumnya banyak yang tidak percaya diri sebelum memulai pameran.
“Hasilnya bagus, bisa melebihi tahun lalu. Padahal, sempat khawatir akan minat masyarakat yang berbelanja, terimbas kondisi ekonomi yang sempat melemah tajam beberapa bulan terakhir,” katanya.
Menurut dia, banyak pelaku UKM yang sempat khawatir, jika Kota Malang tidak menghasilkan antusias yang berujung pada minat belanja. Sebab, sepanjang 2015 ini, hasil lebih banyak tidak sebaik tahun lalu.
“Sebelum lebaran, beberapa kali pameran hasilnya kurang bagus. Dalam tiga pameran terakhir sebelum di Malang, mulai membaik. Ternyata UKM termasuk kuat menghadapi pelemahan ekonomi,” papar dia kepada Malang Post.
Selama empat hari pameran di Malang atau hingga kemarin sore, target penjualan sudah tercapai. Menurut perempuan asal Lombok itu, berbagai koleksi perhiasan dan mutiara yang dijualnya, menghasilkan omzet melebihi angka Rp 25 juta. Nominal tersebut merupakan target dari UKM yang sudah dua kali mengikuti pameran di Kota Malang ini.
“Hari ini (kemarin, red) target sudah goal. Tinggal mencari tambahan, bisa untuk oleh-oleh yang khas Malang,” imbuh dia, lantas tersenyum.
Diakuinya, salah satu cara UKM untuk bisa survive atau cepat bangkit dari masa sulit, dengan inovasi. Memiliki koleksi produk yang tidak semahal barang seperti otomotif atau properti, Mutiara Lombok dan juga UKM lain, bisa memainkan produk dengan mudah dan melihat trend di masyarakat.
“Misalnya memadukan mutiara dengan emas. Aksesoris seperti bros sedang disukai, ya tinggal membuat koleksi ini,” jelasnya.
Sementara itu, Owner D’Sil Home Made Lilis Indriyawati yang merupakan UKM asli Malang, juga mengalami hal yang sama. Penjualan terhitung laris, ketimbang pameran sebelumnya. Begitu pula ketika sales sebelum pameran, tidak begitu terkendala.
“Masih bagus kok penjualan. Di semester dua ini malah sudah normal dan melebih target. Jauh lebih bagus ketimbang semester satu,” urainya.
Menurut dia, malahan ketika berbagai harga kebutuhan atau aksesori menjadi mahal, koleksi kreasinya tidak begitu naik. Meski ada penyesuaian harga, akan tetapi masih sangat bisa dijangkau. “Itulah keuntungan sektor UKM. Kami lebih kuat,” tegasnya.
Dia malah dengan yakin siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang sesaat lagi segera terjadi. Pasalnya, selain produk yang berkualitas dan terbukti disukai, tidak hanya di dalam negeri, koleksi asesori seperti tas dengan ciri khas Indonesia seperti motif batik, sudah memiliki pasar yang pasti. (ley/aim)