Batik Ayam Jago & Siluet Baju Karate

MALANG POST - Setelah Bateeq dan Itang Yunasz, nuansa tradisional masih ditampilkan ‎di hari kedua pagelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2016, Minggu (25/10/2015). Kali ini sentuhan etnik dihadirkan berupa batik dengan print ayam jago oleh Toton Januar. Desainer muda tersebut juga menawarkan siluet ala busana karate serta permainan detail macrame yang membuat kagum penonton semalam. Koleksi Spring/Summer terbarunya ini pernah ditampilkan di Paris Fashion Week beberapa bulan lalu.

"Koleksi ini sempat ditampilkan di Paris Spring/Summer 2016 jadi sudah siap. Di sana kita bertemu pembeli dari seluruh dunia dan bertransaksi. Tanggapannya positif dan selalu ada peningkatan animo. Kali ini main digital print saja dan ragam hias ambil motif batik," ‎kata Toton sesaat sebelum show di Fashion Tent.

Koleksi tersebut ternyata terinspirasi dari mendiang nenek Toton yang mengenakan kebaya dan batik di keseharian. Kain dengan print ayam jago merupakan favorit beliau. Toton pun menerapkan gambar tersebut pada sejumlah atasan, dress, rok, serta ‎celana. Tampilan itu pun dilengkapi dengan obi sebagai perwakilan inspirasi busana karate.

Yang juga menarik adalah atasan dengan aksen lipat yang dipadukan dengan rok berlipit. Selain lipit, ada pula rok yang dihadirkan dengan detail peplum setengah serta dilapisi oleh anyaman macrame. Minimalis namun kaya teknik. ‎Selain gambar ayam jago dan obi, Toton juga mempercantik sejumlah busana dengan berbagai aplikasi pada material transparan yang sepintas terlihat seperti busana pernikahan sehingga memunculkan kesan romantis.

Toton bukan satu-satunya desainer yang menutup JFW hari kedua. Sebelumnya tampil pula koleksi yang tak kalah spesial dari brand Major Minor. Menampilkan lini eksklusifnya yakni Major Mijor Maha, brand asuhan Ari Seputra itu berkolaborasi dengan seniman Eko Nugroho untuk koleksi Spring/Summer 2016.

‎Eko Nugroho sendiri merupakan seniman berskala internasional yang dikenal berkat komik Dagingtumbuh di tahun 2000-an dan lukisan Republik Tropis yang pernah dijadikan motif scarf Louis Vuitton pada 2003. Kali ini, ia didaulat untuk menghias rangkaian busana Major Minor dengan lukisannya yakni pola berulang, topeng, serta makhluk mitologi.

Kolaborasi keduanya menciptakan koleksi busana yang edgy namun tetap elegan dengan sentuhan nilai seni. Major Minor pun masih setia dengan permainan potongan tegas dan asimetris serta perpaduan beberapa warna dalam satu tampilan. Kali ini, busana juga cukup 'meriah' dengan aksen payet, bordir, serta sequin. (dtc/feb)