UKM Maksimalkan Penjualan via Online

MALANG - Pelemahan ekonomi yang terjadi di Indonesia hampir sepanjang 2015 ini, membuat berbagai sektor bisnis dituntut kreatif dalam hal sales. Tak terkecuali di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang memaksimalkan penjualan tidak hanya via offline seperti store dan pameran. Penjualan online dengan memanfaatkan media sosial atau perpesanan instan terbukti efektif menjadi satu solusi untuk menopang penjualan.
Owner Decoupage Art and Supplies Lutfia Firmaningtyas mengatakan, inovasi perlu dilakukan oleh sektor UKM. "Mengandalkan sales dari store saja, untuk UKM terasa berat," katanya.
Menurut dia, penjualan online merupakan cara efektif di Decoupage. Terbukti, kini dari keseluruhan omzet penjualan, 70 persen berasal dari pemesanan online. Sisanya, bisa customer walk in yang mendatangi store atau memanfaatkan transaksi di pameran.
Dia menuturkan, perubahan tersebut terasa di tahun ini. Sebab, di tahun lalu untuk penjualan online masih belum mencapai 50 persen dari keseluruhan. "Ketika penjualan di store sepi, kami harus lebih mengoptimalkan online. Bisa melalui Instagram, Facebook atau grup BBM," beber dia kepada Malang Post.
Dia mengakui, dengan penjualan secara online penyebarannya pun kian luas. Tidak hanya customer berasal dari Malang Raya yang mengetahui produk Decoupage yang meliputi tas handmade dari bahan pandan dan beberapa kerajinan dengan teknik decoupage yang berasal dari luar negeri.
Menurut dia, sejatinya di tahun ini Decoupage juga masih mengikuti beberapa kali pameran. Namun, dengan intensitas yang minim hanya 3-4 kali dalam setahun, dirasa berat. "Apalagi, di hari tertentu penjualan masih sepi meskpun pameran," tambahnya.
Keseriusan dengan penjualan online ini pun membuat Decoupage yang juga tergabung dalam Dinas Koperasi Kota Malang menambah admin untuk media online. Bila sebelumnya satu orang saja, seiring dengan larisnya permintaan, admin bertambah.
Terpisah, Owner D'Sil Homemade Sawojajar, Lilis Indriawati mengakui, penjualan di tempatnya kini 90 persen secara online. Sejak pertengahan tahun ini, kreasi buatan tangan itu diburu oleh customer dengan model online. "Sekarang bisa dibilang tidak punya stock untuk store. Persediaan hanya untuk pameran," terangnya.
Dia menambahkan, jika ada customer yang memesan baru pihaknya memproduksi sesuai dengan pesanan. Menurut dia, cara ini efektif dan mengubah pakem sales di D'Sil. "Ya, jualan online lebih maksimal. Kami juga aman, produksi sesuai dengan pesanan," tambah Lilis.
Meskipun produksi dibuat sesuai dengan pesanan, dia mengakui jika omzet tidak perlu diragukan lagi. Bisnisnya bisa menghasilkan omzet antara Rp 40 juta - Rp 70 juta per bulan. Angka itu diperoleh dari online dan pameran. (ley/han)