Usung Konsep Modern, Pertahankan Cagar Budaya

MALANG – Sebagai salah satu kota yang pernah diperintah kolonial Belanda, Malang memiliki banyak bangunan bergaya Eropa yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Bangunan-bangunan tersebut tidak jarang dimanfaatkan pengusaha untuk membangun sebuah usaha yang banyak menarik minat pelanggan.
Omah Coffee yang letaknya tidak jauh dari pusat pemerintahan Kota Malang hampir dua tahun ini berdiri dengan konsep semi modern, tanpa menghilangkan unsur lama dari bangunan itu sendiri. “Omah Coffee ini dibangun tidak hanya sebagai outlet biasa, namun juga bertujuan menjaga nila-nilai budaya dari bangunannya sendiri. Bangunan kuno ini merupakan salah satu cagar budaya yang wajib dijaga,” ujar pengelola Omah Coffee, Andri kepada Malang Post.
Menurutnya, bangunan yang sudah ada sejak 1920-an ini pada awalnya merupakan bagian dari outlet Omah Mode dan baru dua tahun terakhir ini dimanfaatkan sebagai kafe. Setiap harinya kafe dibuka dari jam 09.00 pagi hingga 21.00 malam, untuk akhir pekan biasa buka sampai jam 00.00. Para pengunjung tidak terbatas pada kalangan muda dan warga Malang, banyak turis domestik maupun mancanegara yang setiap harinya mengunjungi kafe ini. Lokasi yang berdekatan dengan lingkungan sekolah tidak jarang menjadi tempat anak-anak muda berkumpul, termasuk dalam acara-acara tertentu seperti rapat dan perayaan ulang tahun.
Pria asli Malang ini juga menuturkan, dua bulan terakhir baru saja diluncurkan tiga menu baru yang harganya tidak jauh berbeda dengan menu yang sudah ada sejak dulu. Tiga menu itu yakni soto kudus, garang asem dan ayam kremes. Soto kudus merupakan menu baru yang banyak digemari pelanggan, menu ini dibandrol dengan harga Rp 8.000. Garang asem dapat dinikmati dengan harga Rp 15 ribu, sementara ayam kremes dijual Rp 13 ribu.
Ruangan yang dipenuhi ornamen unik dari kayu memberi suasana klasik namun tetap dengan sentuhan-sentuhan kekinian. “Penataan ruangnya sendiri dibuat menyerupai kafe di daerah Yogyakarta, namun masih tetap dengan sentuhan Eropa klasik. Penggabungan dua budaya yang pada akhirnya dikemas tidak membosankan,” jelasnya. (mg2/han)