Laba Sepatu Bata Anjlok 56,01 Persen Menjadi Rp 28,37 Miliar

Produsen alas kaki PT Sepatu Bata Tbk harus mengalami pelemahan kinerja sepanjang sembilan bulan di tahun ini akibat menanjaknya beban pokok penjualan dan beban usaha. Pelemahan itu terlihat dari anjloknya laba bersih Sepatu Bata sebesar 56,01 persen menjadi Rp 28,37 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan pada Senin (2/11/15), Sepatu Bata sebenarnya membukukan penaikan pendapatan sebesar 3,56 persen menjadi Rp 796,99 miliar pada sembilan bulan pertama 2015, dari Rp 769,59 miliar di periode yang sama 2014.

Secara rinci, penjualan domestik Sepatu Bata masih mendominasi dan tercatat sebesar 98 persen dengan nilai Rp 781,32 miliar. Jumlah itu meningkat dari Rp 744,96 miliar pada sembilan bulan pertama 2014.

Sementara, komposisi penjualan ekspor pada Januari-September 2015 tercatat hanya 2 persen dengan nilai Rp 15,67 miliar. Jumlah itu menurun dari penjualan ekspor periode yang sama 2014 di angka Rp 24,63 miliar.

Sayangnya, beban pokok penjulan perseroan menanjak lebih tinggi dari penaikan pendapatan tersebut. Beban pokok penjualan Sepatu Bata melonjak 11,77 persen menjadi Rp 476,29 miliar, dari Rp 426,10 miliar.

Hal itu ditambah lagi dengan naiknya beban usaha perseroan. Tercatat, beban sewa toko Sepatu Bata melonjak menjadi Rp 89,64 miliar dalam periode sembilan bulan pertama 2015, dari Rp 75,92 miliar pada kurun waktu yang sama 2014.

Lebih lanjut, beban gaji dan upah Sepatu Bata juga melonjak hingga 43,7 persen menjadi Rp 20,15 miliar sepanjang Januari-September 2015, dari Rp 14,02 miliar pada sembilan bulan pertama 2014.

Beban keuangan Sepatu Bata juga tercatat melonjak menjadi Rp 4,52 miliar pada sembilan bulan pertama 2015, dari Rp 2,81 miliar dalam periode yang sama 2014. Hal itu serta merta membuat laba sebelum pajak penghasilan perseroan jeblok 53,41 persen menjadi Rp 41,45 miliar.

Alhasil, kendati beban pajak penghasilan Sepatu Bata melorot dari Rp 24,48 miliar pada sembilan bulan pertama 2014 menjadi Rp 13,07 miliar di periode yang sama 2015, laba periode berjalan (laba bersih) terkontraksi 56,01 persen ke angka Rp 28,37 miliar.

Sebelumnya, Deputy II Retail Director Budi Harta menyebutkan penyebabnya adalah nilai tukar rupiah yang terus melemah selama periode tersebut mengingat Bata masih mengimpor sekitar 30 persen komponen bahan baku.

"Nilai tukar (rupiah) yang melemah penyebab penurunan laba karena kita masih ada bahan baku yang impor," kata Budi pada 28 Mei lalu di Pabrik Bata, Purwakarta. (cnn/oci)