Kelangkaan Pasir Sumbang Inflasi Oktober

MALANG – Kelangkaan pasir yang terjadi di Jawa Timur tragedi kasus Salim Kancil dan Tosan, turut menjadi penyumbang angka inflasi di Kota Malang. Angka inflasi mencapai 0,03 persen dan terhitung rendah, karena beberapa komoditi lain harganya relatif stabil sepanjang Oktober lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Malang M. Sarjan mengatakan pada Oktober 2015 di Kota Malang terjadi inflasi sebesar 0,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 121,83. Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, tercatat 4 kota mengalami inflasi dan 4 kota lainnya mengalami deflasi. 
“Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 0,15 persen dengan IHK sebesar 119,09, diikuti Madiun sebesar 0,10 persen dengan IHK 119.09, dan Kota Malang dengan inflasi sebesar 0,03  persen dengan IHK sebesar 121.83. Sedangkan Probolinggo sebesar 0,02  Probolinggo dengan IHK sebesar 120,67,” ungkapnya.
Sementara itu,  yang mengalami deflasi, yakni Surabaya sebesar -0,34 persen dengan IHK sebesar 120.73 dan Banyuwangi -0,25  persen dengan IHK sebesar 119.15. Dilanjutkan Jember sebesar -0,05 persen dengan IHK sebesar 119,46 dan Kediri sebesar -0,04 persen dengan IHK sebesar 119,91.
Menurut Sarjan, di Kota Malang, satu dari sepuluh komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga pada Oktober 2015, yakni sayur berada di posisi ketiga, di bawah tomat sayur dan tongkol pindang. “Selain itu, komoditas bawang merah, tukang bukan mandor, bawang putih, cat tembok, kentang, wortel dan lemari es,” ujarnya.
Dia menyebutkan, sepuluh komoditas terbesar yang mengalami penurunan harga pada Oktober 2015, yakni cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam, semen, minyak goreng, bayam, emas perhiasan, jagung manis, tauge/ kecambah, dan ketimun.
Untuk tingkat inflasi tahun kalender Oktober 2015 sebesar 2,24 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) sebesar 6,61 persen.
Kasi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini menambahkan, selama beberapa bulan terakhir komoditi daging dan telur ayam ras mengalami fluktuasi harga. Hal itu terjadi karena tidak seimbangnya pasokan dan permintaan terhadap komoditas ini yang menyebabkan terjadinya instabilitas harga. Selain itu, berkurangnya permintaan terhadap daging dan telur ayam ras selama bulan Oktober menyebabkan turunnya harga komoditas tersebut.
Pasokan yang melimpah pada komoditi cabai rawit, dan cabai merah, menyebabkan terjadinya penurunan harga pada komoditi tersebut. Sedangkan turunnya harga minyak mentah dunia turut mempengaruhi turunnya harga minyak goreng dan bensin.
Dari 11 sub kelompok dalam kelompok bahan makanan, tujuh sub kelompok mengalami inflasi dan 4 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di sub kelompok ikan diawetkan sebesar 5,91 persen , diikuti sub kelompok sayur-sayuran sebesar 2,08 persen, sub kelompok ikan segar sebesar 0,48 persen, dan sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 0,40 persen. Untuk sub kelompok kacang-kacangan sebesar 0,20 persen, sub kelompok buah-buahan 0,15 persen dan sub kelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya sebesar 0,08 persen .
Pada Oktober 2015 kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar  memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,0653 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain pasir sebesar 0,0294 persen.
Hal itu terjadi karena dalam Oktober, pasokan pasir di pasar berkurang berkaitan dengan tewasnya aktivis lingkungan, Salim Kancil, sehingga polisi memeriksa pemegang izin eksploitasi pertambangan, terutama pasir besi. Pasokan pasir pun berkurang dalam beberapa pekan terakhir. (ley)