Minat Masyarakat Beli Jajanan Kuno Masih Tinggi

MALANG– Warisan kuliner Indonesia yang saat ini banyak dikenal masyarakat sebagai jajanan kuno merupakan salah satu aset berharga yang memiliki nilai ekonomis. Peluang besar ini banyak dimanfaatkan pelaku UMKM dengan memberi sedikit sentuhan modern. Dalam beberapa even besar, pelaku usaha ini memiliki omzet mencapai angka Rp 1 juta per harinya. “Omzet yang kami dapat ketika mengikuti iven seperti ini paling sedikit Rp 500 ribu per harinya, jika ramai omzet perhari bisa sampai Rp 1 juta lebih,” ungkap pemilik Cenil Arema, Nafik Iswan kepada Malang Post, (6/11), kemarin.
Menurutnya, usaha keluarga yang sudah dirintis lebih dari 20 tahun ini juga bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat secara luas mengenai jajanan khas Jawa ini. Dalam beberapa kesempatan ia turut serta dalam iven besar kuliner yang diadakan di Jawa dan Bali. Untuk menarik perhatian pengunjung, cenil ditata menyerupai gunung. “Penataan sedemikian rupa ini sudah menjadi identitas kami, jadi para pelanggan akan mudah mengenali dalam beberapa iven yang kami ikuti,” jelasnya.
Pria yang mengaku sebagai generasi ke dua dalam bisnis ini menyebutkan bahwa, animo masyarakat selalu mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari terus meningkatnya jumlah pelanggan, lebih dari 500 kemasan cenil mampu terjual setiap harinya. “Tergantung suasananya, apabila suasananya ramai maka dagangan kami akan habis dalam waktu yang singkat,” tambahnya.
Ditemui dalam waktu yang bersamaan, pemilik stan jajanan kuno, Umu Chabibah menerangkan bahwa, ada banyak jenis jajanan yang seharusnya diperkenalkan kepada anak-anak. Jajanan ini jarang ditemui anak-anak, sehingga dalam iven tertentu seperti ini anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini sangat  disayangkan, karena makanan warisan leluhurnya ini dianggap asing dibandingkan dengan makanan-makanan ringan yang notabene dari luar.
Ibu satu anak ini menjelaskan bahwa, pada kesempatan ini ia menjual aneka ragam jajanan, yakni jenang grendul, tiwul, bledus (berbahan dasar jagung), cenil, gatot, kacang rebus, tahu petis, sate tebu, kedelai, dan kopi pring. Jajanannya ini selalu habis terjual dengan kisaran harga dibandrol mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 5 ribu. (mg2/udi)