Lepas Pekerjaan di Bank, Kini Omzet Rp 150 Juta Per Bulan

MALANG POST - Tidak sedikit pengusaha ternama di Indonesia yang mengawali karirnya sebagai pegawai. Yuly Ratna Hapsari mencoba menjajal keberuntungan itu dan memilih berhenti dari pekerjaan yang telah digelutinya selama 10 tahun dan menekuni bisnis Kirana Janari Skin Care.
Keputusannya tersebut tepat, sebab kini omzet yang didapatkannya mencapai Rp 150 juta per bulan. “Selama 10 tahun saya bekerja sebagai pegawai bank. Usaha ini saya rintis sejak tiga tahun lalu. Sekarang saya dapat menikmati hasil yang berlipat ganda dibandingkan gaji saya selama menjadi pegawai,” ujarnya kepada Malang Post, (15/11/15) kemarin.
Ibu dua anak ini menjelaskan, minimnya waktu yang dapat dihabiskan bersama putra dan putrinya merupakan pendorong utama yang membuatnya memilih untuk berhenti bekerja. Peluang bisnis yang bagus tidak disia-siakannya, dia pun akhirnya memantapkan diri untuk terjun dalam dunia bisnis anti aging ini. “Anti aging merupakan kebutuhan primer yang dicari banyak orang, saya rasa bisnis ini mampu memberi keuntungan yang besar. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk melangkah,” jelasnya.
Menurut Yuly, tingginya kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan dan memperbaiki penampilan merupakan peluang besar yang tidak disia-siakannya. Tantangan itupun ia jawab dengan penawaran berbagai produk andalan yang diakuinya telah mendapat banyak kepercayaan dari masyarakat. Produknya ini mampu memberi hasil yang langsung terlihat dan tampak natural. Dalam waktu dekat ia akan kembali melakukan ekspansi melalui pembukaan market baru yang terletak di lantai dua MX Mall.
Target di masa mendatang, ia akan kembali membuka market baru di beberapa wilayah Malang. Dia berharap kesadaran masyarakat tenting pentingnya perawatan anti aging akan terus mengalami peningkatan, sebab hal ini erat kaitannya dengan kesehatan seseorang. “Ekspansi merupakan target yang harus saya kejar. Hal ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan masyarakat secara luas, khususnya Malang akan produk yang saya tawarkan,” tambahnya.
Persaingan ketat baginya bukan sebuah  halangan, karena ia beranggapan setiap produk yang ditawarkan selalu memiliki kelebihan yang berbeda. Yuly mengakui sempat mengalami jatuh beberapa kali, namun ia memutuskan untuk kembali bangkit. “Kerugian yang didapat seorang pebisnis, baik yang telah mahir maupun para pemula merupakan pendidikan yang memang harus dibayar. Karena peristiwa seperti itulah yang akan memberi banyak pelajaran bagi kami para pelaku usaha untuk terus berinovasi,” tutur perempuan kelahiran Bali ini.
Baginya, cara pandang masyarakat yang masih dominan menjadi pegawai bukanlah hal yang salah, namun ada baiknya harus diubah untuk lebih memberi warna baru. Di Indonesia jumlah pengusaha memang banyak, namun juga tidak sedikit para pegawai yang menggantungkan dirinya pada sebuah perusahaan. Kemandirian mayarakat sangat perlu dipupuk sedari dini, karena hal ini akan memberi dampak lebih besar bagi negara. “Sangat disayangkan apabila para pekerja yang tidak siap terjun ke lapangan hanya dikarenakan adanya PHK,” tambahnya. (mg2/han)