Permintaan Tinggi Menjelang Natal

MALANG – Coklat menjadi produk primadona pada momen tertentu. Bukan hanya ketika Valentine, tapi juga Lebaran dan Natal. “Bulan Ramadan dan menjelang hari Natal, pemesanan akan mengalami banyak kenaikan. Saat puasa, omzet bisa mencapai Rp 25 juta, sementara menjelang Natal menyentuh angka Rp 15 juta. Jauh berbeda dengan hari-hari biasa, omzet per bulan biasanya hanya berkisar di atas Rp 5 juta,” terang pemilik Galeri Coklat Lwegee, Ratna Indriana kepada Malang Post, (17/11/15), kemarin.
Perempuan yang akrab dipanggil Nana ini menuturkan, bulan ini telah dilakukan produksi untuk memenuhi stok menjelang Natal. Bentuk coklatpun sengaja dicetak menyerupai berbagai pernak-pernik Natal seperti lonceng, bintang dan bentuk kado. Selain stok yang telah disiapkan, pemesanan secara custom juga tetap dilayani hingga Natal tiba.
Menurutnya, bisnis yang tengah digelutinya ini harus terus melakukan inovasi baru untuk tetap dapat eksis. Karena sejauh ini target utama pemasarannya adalah anak-anak usia sekolah yang memang cenderung suka dengan bentuk lucu. Saat ini sudah lebih dari 50 bentuk coklat yang ia pasarkan, dan setiap bulannya pasti disertai dengan bentuk baru lain.
Bisnisnya ini dimulai sejak 2004 bersama ketiga rekannya dan baru digarap secara pribadi mulai 2010. “Awalnya saya dan teman-teman hanya menerima pesanan saat hari-hari besar seperti Idul Fitri, Natal dan Valentine saja. Promosi dari mulut ke mulut yang terus berkembang akhirnya saya manfaatkan melalui jejaring sosial Face book. Tahun 2010 dengan dorongan dari kakak, saya memulainya sendiri dan memutuskan untuk membuka toko,” jelas alumni pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang ini.
Target ke depan, ia dapat melakukan ekspansi melalui kerjasama dengan beberapa café yang ada di Malang. Sejauh ini selain di Malang dia memiliki re-seller dari Bali, Jakarta, Surabaya, dan Riau. Varian rasa yang dimiliki selanjutnya juga akan kembali dikembangkan, di antaranya adalah dengan menambahkan rasa green tea, sweet chili, dan wortel.
“Rasa wortel sendiri rencananya akan dikonsentrasikan untuk pemasaran daerah Batu. Cetakan kelinci yang saat ini juga telah tersedia nantinya juga akan menjadi pendukung dari konsep ini. Inovasi baru selalu diterapkan karena saya menginginkan yang berbeda, sehingga pelanggan akan terus merasa penasaran dan tertarik untuk membeli,”terangnya.
Harga yang ditawarkan untuk setiap coklat bervariasi, mulai dari Rp 1.750 per batang dan pemesanan khusus untuk hantaran besar paling mahal dibandrol dengan harga Rp 185 ribu per box. Kendala yang didapat selama melakoni bisnis ini di antaranya adalah pemesanan secara online yang kadang kala tidak sesuai dengan perjanjian. Ada beberapa pelanggan yang ternyata tidak mengambil pesanannya tersebut.
“Beberapa yang melakukan transaksi secara online meminta pembayaran tunai (cash on delivery), dan ketika coklat sudah siap diantar ada beberapa yang ternyata tidak menjawab ketika dihubungi. Hasilnya barang tidak jadi dikirim, dan ini mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam bertransaksi,” jelas perempuan yang pernah bekerja sebagai guru TK ini.(mg2/han)