Lawan Arus, Ciptakan Pasar Sendiri

MALANG – Sebagian besar pelaku bisnis selalu menyesuaikan diri dengan berbagai produk massal yang banyak diincar masyarakat. Namun berbeda dengan pemilik butik Ade Shop, Chrisanti Rangga yang lebih memilih tampil beda dengan tidak mengikuti permintaan pasar. Dia memilih untuk menciptakan pasarnya sendiri melalui berbagai inovasi baru.
“Dalam berbisnis bukan hanya uang yang harus dikejar, namun bentuk penghargaan dari orang lain bagi saya juga sangat penting dan harus dikejar. Karena produk yang kita tawarkan akan memiliki nilai lebih tinggi dengan adanya penghargaan tersebut. Penghargaan tidak harus didapat dari mahal atau murahnya barang, namun juga dari bentuk inovasi yang terus dikembangkan,” tutur Sarjana Psikologi ini kepada Malang Post, (18/11/15) kemarin.
Perempuan yang akrab dipanggil Ade ini menuturkan, bisnisnya ini dirintis sejak 2007 melalui media online. Selang beberapa tahun kemudian, ia memutuskan untuk membuka store dengan menawarkan berbagai atribut fashion, mulai dari baju, tas, sepatu hingga pernak-pernik lainnya.
Persaingan ketat dalam bisnis online tidak menyurutkan niatnya untuk terus mengembangkan usaha. Hingga saat ini, bisnis online tetap dijalankannya di samping store yang telah ia buka sejak 2010. Supaya tidak tergerus dalam kerasnya bisnis online, ia konsisten memberi inovasi-inovasi baru yang pada akhirnya memperkuat karakter setiap produk yang dimilikinya.
“Produk yang saya tawarkan kepada pelanggan selalu berbeda dan tampil eksklusif, sebab saya memodifikasi setiap barang yang saya miliki dengan kreativitas dan inovasi baru. Masyarakat saat ini pintar, dan mereka cenderung memilih barang dengan kualitas bagus meski dengan harga yang mahal sekalipun. Yang dijual bukan hanya barang nyata, tapi kreativitas yang dimiliki akan menaikkan nilai jual tanpa harus kita minta,” jelasnya.
Menurut Ade, untuk tampil beda butik yang dimilikinya tidak hanya menawarkan berbagai item fashion. Beberapa item penunjuang lainnya juga ia sediakan, yaitu woden craft dan foto video. Konsep ini didasarkan pada prinsipnya untuk lebih menggaet pasar baru yang ia ciptakan sendiri.
“Wooden Craft memang bukan hal baru, namun untuk lukisan pahat sejauh ini di Malang belum banyak dikenal. Lukisan pahat ini merupakan produk recycle dan dibentuk sesuai dengan cita rasa seni yang tinggi. Peminat produk ini kebanyakan berasal dari Makasar, Bali, Bandung, Jakarta, Kalimantan dan Sidoarjo. Sebagian dari mereka juga menjadi re-seller,“ jelas perempuan kelahiran Sulawesi ini.
Kejelian dan kepekaan dalam melihat pasar baginya merupakan modal utama. Di tengah maraknya plagiasi, pelaku usaha dituntut lebih keras dalam menuangkan ide. Setiap ide yang ada sebaiknya tidak lagi diulang, namun harus dikembangkan menjadi lebih menarik lagi.
Tantangan yang dihadapi selama menjalanakan bisnis ini menurutnya sangat besar. Dia beranggapan, jika tetap mengikuti arus bisnis yang telah tercipta maka kemungkinannya untuk sukses sangat besar, namun tidak akan bertahan lama. ”Omzet yang saya miliki ketika berbisnis dengan selalu mengikuti alur pasar sangat besar. Berkisar antara Rp 60 juta hingga Rp 100 juta per bulan, namun ini hanya bertahan sebentar saja, karena tren akan terus berubah dalam waktu yang singkat. Saat ini omzet yang saya dapat selalu stabil, berkisar di angka Rp 40 juta per bulan,“ terangnya.
Ade menjelaskan, untuk menarik perhatian pelanggan, promosipun dilakukan dengan cara yang berbeda. Promo melalui media online ditekankan pada bentuk cerita, sehingga para pelanggan akan lebih tertarik membacanya. Harga yang ditawarkan untuk setiap produk fashion yang dimilikinya berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 350 ribu. Wood craft lukis dibandrol dengan kisaran Rp 90ribu hingga Rp 175 ribu, sementara coak (pahat) dapat dibeli dengan harga Rp 250 ribu. (mg2/han)