Alat Bantu Dengar, Dibutuhkan Namun Kurang Dikenal

MALANG – Gangguan fungsi pendengaran merupakan salah satu problem kesehatan yang harus diperhatikan dengan baik. Di Indonesia, bahkan di dunia masalah ini tidak hanya dihadapi oleh orang dewasa yang sudah lanjut usia, namun juga anak-anak mulai usia bayi. Pemahaman dan sosialisai yang kurang merupakan salah satu kendala yang membuat beberapa perusahaan yang bergerak di bidang alat bantu dengar ini selalu stagnan dalam titik yang sama.
”Cabang di Malang ini buka pada 2011 dan perkembangan yang kami lalui hingga di tahun ke lima ini selalu berada pada level yang sama. Tidak jarang berada di bawah target yang ditentukan. Sejauh ini kami pernah mengalami berada pada posisi 30 persen di bawah target,“ tutur Konsultan PT. Alat Bantu Indonesia (PT ABDI), Nono kepada Malang Post.
Menurut Nono, pemahaman yang kurang serta sosialisasi yang juga jarang dilakukan kepada masyarakat merupakan faktor utama yang membuat bisnis ini tidak mengalami peningkatan secara signifikan. Selain itu, masyarakat lebih beranggapan harga yang dibandrol untuk alat pendengaran tersebut mahal, dibandingkan dengan berbagai alat digital lain yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Dia menuturkan, produk yang mereka tawarkan ini pada dasarnya adalah untuk memberi kemudahan bagi masyarakat dalam menghadapi setiap gangguan pendengaran yang mereka hadapi. Produk tersebut di antaranya adalah alat bantu dengar, baik dengan teknologi digital maupun teknologi manual, alat terapi tinnitus, implant dan audio fitness.
Produk yang ditawarkan tersebut berkisar atara Rp 2,7 juta hingga Rp 41 juta. Perbedaan harga tersebut disesuaikan dengan manfaat dan kegunaannya, serta perbedaan dari teknologi yang dibenamkan. Sejauh ini, masyarakat lebih memilih menggunakan alat dengar manual. Meski demikian, tidak sedikit customer yang mulai memilih teknologi digital
Ke depannya, ia menargetkan untuk melakukan sosialisasi lebih luas lagi kepada masyarakat mengenai pengetahuan dasar dalam gangguan pendengaran ini. “Masalah pendengaran ini sangat krusial, karena berpengaruh besar terhadap komunikasi yang dijalankan oleh beberapa orang. Selain berpotensi dalam gangguan kesehatan, hal ini juga berpengaruh pada psikolog seseorang,” jelas pria asal Surabaya ini. (mg2/han)