Kurs Dolar Tinggi, Omzet Nivea Turun

MALANG - Lesunya kondisi ekonomi membuat sektor bisnis mengalami penurunan pencapaian target, baik dalam hal omzet maupun kapasitas produksi. Harga bahan baku yang mahal efek tingginya nilai dolar AS terhadap rupiah, berpengaruh pada kekuatan produksi sehingga pabrik seperti PT Beiersdorf (BDF) Indonesia pun merasakan pencapaian di tahun ini tidak maksimal.
HR & GS Department PT Beiersdorf Indonesia, Arif Yunianto mengakui, sepanjang 2015 ini, berbagai sektor bisnis mengalami hal yang sama. Tak terkecuali manufacturing, seperti halnya perusahaan yang lebih dikenal dengan brand Nivea tersebut.
"Hingga triwulan terakhir 2015 ini, kondisi masih sama. Tidak ada progres yang begitu bagus, sehingga mencapai target pun terasa sangat sulit, terutama dalam hal pendapatan," ujarnya.
Menurut dia, PT BDF memang masih optimis menggapai prosentase pertumbuhan dua digit di akhir tahun. Namun, tidak memungkiri akan sulit menyamai raihan 2014 ataupun 2013. Pasalnya, hingga September lalu, pertumbuhan masih di bawah 10 persen.
"Kalaupun bertumbuh, antara 10-12 persen. Sulit bisa mencapai angka 25-30 persen, sesuai target ketika di awal tahun," beber Arif kepada Malang Post.
Menurut dia, lambatnya pertumbuhan itu terjadi karena PT BDF mengandalkan hampir 70 persen bahan baku impor. Dengan kondisi kurs rupiah yang lemah terhadap dolar AS, maka cost untuk membeli bahan baku lebih besar. Sementara, untuk kapasitas dan permintaan produksi, harus tetap tinggi.
"Kami harus memilih dan berstrategi. Sedikit ambil untung dengan risiko pertumbuhan kecil atau mengurangi produksi yang justru tidak baik karena banyak permintaan," terang dia.
Hal itulah, diakui Arif, membuat PT BDF di tahun ini tidak bisa maksimal menggapai target. Sementara, perusahaan juga tidak bisa menaikkan harga produk terlalu tinggi, karena pasti kalah bersaing. Baik dengan kompetitor, maupun manufacturing BDF di negara lain seperti Thailand.
"Misal produk kami harus menghabiskan biaya produksi Rp 16 ribu, di BDF Thailand cost-nya bisa hanya Rp 14 ribu. Ketika harus diimpor ke Singapura, ya produsen di sana lebih memilih produk dari Thailand," urai dia panjang lebar.
Arif berharap, kondisi akan segera membaik. Pasalnya, budgeting target pun segera diajukan dan BDF mesti menyesuaikan kondisi atau hasil di tahun ini. "Jika dirasa kurang potensial dan keuntungan menipis, bisa jadi pabrik yang terancam. Makanya, perekonomian harus membaik, terutama rupiah segera maksimal penguatannya," pungkas dia. (ley/han)