Masyarakat Harus Cerdas, Pilih Batik Asli

MALANG – Batik sebagai salah satu andalan pemerintah dalam menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) nampaknya harus kembali diperhatikan. Pasalnya, tidak sedikit masyarakat yang memiliki pemahaman dangkal mengenai batik itu sendiri. Hal ini jugalah yang melatarbelakangi batik lokal kurang bersaing dalam kancah perindustrian berskala nasional maupun internasional.
Pemilik Batik Satrio Manah Malang, Prayogi Science Gamawijaya menyebutkan, terlepas dari ada atau tidak adanya MEA, produksi batik sangat kurang diminati masyarakat. Banyaknya produk impor yang memproduksi berbagai kain dengan motif batik pada akhirnya membuat rancu pemahaman masyarakat akan arti dari batik itu sendiri.
Produksi massal ini pada akhirnya memberi penawaran harga yang jauh lebih murah dibanding dengan kain batik asli, sehingga masyarakat cenderung memilih kain motif dibanding batik. “Kain batik harganya berkisar Rp 160 ribu hingga tak dapat ditentukan harganya, sementara kain motif  batik berkisar Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu,” terangnya pada Malang post, kemarin.
Menurut Yogi, perbedaan harga tersebut bukan hanya karena perbedaan jumlah produksi. Namun lebih pada kurangnya edukasi, sehingga besar harapannya ada edukasi secara lebih optimal lagi. Terutama bagi anak-anak muda, misalnya melalui instansi sekolah.
Dia mengakui, kain batik bernilai karena sebagai salah satu bentuk kesenian. Sehingga hasilnya pun lebih eksklusif dan berkualitas tinggi. Sangat disayangkan sekali, setelah diakui secara global namun permintaannya pun cenderung stag pada satu titik. Hanya beberapa kalangan tertentu saja yang memiliki kesadaran untuk menikmatinya.
Untuk meningkatkan jumlah penjualan, melakukan berbagai workshop merupakan salah satu strategi yang ia terapkan. Sejauh ini, 75 persen produknya dikirim ke beberapa wilayah di Jawa Timur. Sementara sisanya tersebar di banyak wilayah Indonesia. “Ada beberapa pelanggan yang juga menjadi reseller, jadi memang tersebar di banyak wilayah,” jelasnya.
Persaingan yang banyak merugikan produsen batik ini diharapkan mampu diatasi dengan baik oleh pemerintah. Dengan begitu akan lebih banyak masyarakat yang lebih memperhatikan kelebihan dari kain batik itu sendiri. “Memproduksi batik bukan hanya untuk meraih keuntungan, tapi juga untuk mempertahankan warisan budaya bangsa,” pungkasnya. (mg2/han)