BI Rate Naik, Mobilisasi Dana Melambat

Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar beberapa pekan terakhir akhirnya membuat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 7 persen tersebut diharapkan berdampak positif bagi perekonomian di Indonesia. Namun, kekhawatiran justru menghinggapi sektor perbankan, pasalnya laju pertumbuhan kredit diprediksi terhambat dan membuat persaingan untuk mobilisasi dana semakin ketat.
Sugeng Suroto, Asisten Manager BRI Martadinata Malang mengungkapkan, bahwa kenaikan BI Rate memang diperlukan untuk mengurangi peredaran mata uang dolar yang ada, setelah menjadi primadona berkat melemahnya rupiah.
“Dengan menaikkan BI rate dari awalnya 6,5 persen, harapannya masyarakat mulai berbalik kembali untuk melakukan investasi dengan rupiah dan tidak berburu dolar AS,” ungkapnya.
Kemudian dia menjelaskan, dengan suku bunga yang naik dana simpanan diharapkan naik pula. Tetapi permasalahan masih mengikuti sebagai resikonya, yakni suku bunga kredit di perbankan yang bakal mengikuti seiring kenaikan tersebut.
“Sebenarnya nasabah atau investor yang menyimpan dananya dalam bentuk rupiah diuntungkan, tetapi multiple effect-nya pasti pada sektor lain terutama bunga kredit yang bakal naik,” jelasnya.
Menurut Sugeng, beberapa bank pasti mulai berancang-ancang untuk menaikkan suku bunga kreditnya. Paling tidak kenaikan sejumlah poin yang sama dengan BI rate, atau masih menunggu beberapa saat untuk melihat kondisi, apakah stabil atau terpengaruh pula.
“Kenaikan pasti terjadi pula untuk suku bunga kredit perbankan, hanya waktunya yang menunggu. Dalam sebulan ke depan pasti semua naik, seperti BRI yang bakal menaikkan suku bunga kreditnya, minimal seimbang dengan BI Rate,” imbuh Sugeng.
Sementara itu menurut pengamat ekonomi, Prof Ahmad Erani Yustika, sudah sewajarnya perbankan turut menaikkan suku bunga kreditnya, karena persaingan yang lebih ketat bakal terjadi untuk menjaring pengguna dana kredit. Tetapi muncul pula resiko yang membayangi, yakni pertumbuhan kredit yang mengalami perlambatan, dan dampak berikutnya bisa mengganggu rencana ekspansi pelaku usaha karena penyusutan pemasukan akibat tergerusnya daya beli masyarakat.
“Naiknya BI Rate sebenarnya bertujuan pula untuk memperbaiki sektor ekonomi di Indonesia, terutama menekan inflasi. Namun, resiko pertumbuhan kredit mengalami perlambatan adalah salah satu dampaknya,” ujarnya.
Lebih lanjut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini menyampaikan, pelaku usaha mulai berpikir ulang dalam mengajukan kredit karena penyusutan yang dialami akibat tergerusnya daya beli masyarakat. Keinginan menaikkan harga jual produk dan jasanya pun kesulitan sebab peminat mulai berkurang dan keuntungan juga mengecil.
Resikonya, bank harus kreatif dalam menjaring nasabah, terutama dari sektor kredit, agar tetap percaya pada kemudahan dan kredibilitas suatu bank dalam memberikan dana kredit kepada masyarakat. Kalau tidak, tergoda untuk berpaling pada bank lain.
“Perbankan bersaing ketat setelah ini untuk menjaring nasabah yang mengambil kredit,” pungkas dia. (ley/fia)