Keripik Tempe Tetap Produksi

MALANG – Di beberapa kota, kenaikan harga kedelai membuat sejumlah para produsen tempe mogok. Namun, berbeda dengan produsen keripik tempe di Kota Malang, mereka tetap melakukan produksi meski penghasilannya tak sebanyak biasanya. Alasan masih berjalannya produksi keripik tempe di Sentra Industri Tempe Sanan karena hal tersebut merupakan mata pencaharian mereka.    
Yudi Saifudin, Pegawai Pusat Industri Keripik Tempe Hikmah mengatakan, dulunya produksi dalam sehari mencapai 60 kg, namun sekarang hanya 30 kg kedelai. Kenaikan harga kedelai sebenarnya sudah terjadi sejak awal Agustus 2013, Yudi mengaku kenaikan harga tersebut sebenarnya tidak banyak, hanya 100-200 per kg. Namun kenaikan itu terus berlanjut hingga melonjak Rp 9500 per kg. Biasanya, Hikmah menjual 1 dus keripik tempe berisi 12 bungkus seharga Rp 70 ribu namun saat ini naik menjadi Rp 80 ribu. Pendapatan para pegawai juga turut berkurang.
“Kalau kita mogok, kita juga rugi. Karena biasanya memiliki penghasilan, tapi tidak kalau mogok. Kalau harga kedalai naik terus, ya sama-sama tidak bisa bertahan,” ujarnya.
Pria yang sudah delapan tahun bekerja di industri ini berharap kepada pemerintah agar harga kedelai itu bisa turun. Yudi juga mengaku bahan baku lain untuk produksi keripik tempe juga mengalami kenaikan. Seperti tepung, biasanya harga Rp 26 ribu per pack sekarang menjadi Rp 29 ribu sedangkan Yudi membutuhkan 10 pack tepung per hari. Kalau minyak goreng, biasanya Rp 130 ribu saat ini menjadi Rp 150 ribu.
Kalau untuk bumbu dari keripik tempe seperti bawang putih sudah naik sejak kenaikan BBM lalu. Yudi menjelaskan, Hikmah biasanya melayani pemesanan keripik tempe dari penjual lokal. Namun sejak sebulan lalu, para penjual yang biasa kulakan di industri tersebut untuk sementara waktu berhenti, karena harga keripik tempe meningkat. Biasanya Yudi juga melayani pemesanan luar kota seperti, Surabaya, Kediri dan Jakarta. Jika semua pemesanan dilayani biasanya produksi bisa mencapai satu kwintal.
Umi, pemilik Industri Tempe Melati mengatakan bahwa dirinya tak menaikkan harga jual meski harga kedelai terus meningkat. Namun, dia mengaku dalam beberapa hari ini jika harga kedelai tetap naik atau tidak ada perubahan harga, dirinya akan menaikkan harga jual keripiknya. Jadi selama ini, ia hanya mengurangi keuntungan pribadi sedangkan untuk gaji para pegawainya tetap.
“Saat ini kurs rupiah yang sedang anjlok, kedelai pun di koperasi masih ada, tapi kualitas semakin rendah dan harga semakin tinggi,” ujar Choirul Anwar, sekretaris Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Prikomti) Bangkit Usaha Kota Malang di Jalan Sanan No. 49. Pengadaan kedelai didatangkan dari  kota Malang dan Surabaya. Koperasi tersebut sebenarnya sudah memilih harga yang paling rendah di pasaran, sehingga bisa menjual ke anggota dan koperasi ini masih bisa bertahan.
Menurut Choirul, harga kedelai saat ini Rp 9150 – 9300 per kg tergantung merk masing-masing per karung. “Harga yang kita anggap normal dan pasar juga menerima dan koperasi bisa mendapat untung, berkisar Rp 6000 – Rp 7000,” ungkapnya. Harga tersebut sebelum lebaran setelah itu merangkak naik sekitar Rp 50 – Rp 100 per hari hingga melonjak sampai saat ini.
Pengadaan kedelai di koperasi juga berkurang, biasanya Prikomti menyediakan 10 ton kedelai per hari, namun sekarang 8-9 ton per hari.
 “Sekarang ini, anggota kita ini bisa dibilang hidup segan, mati tak mau. Karena jika menaikkan harga jual keripik tempe, masyarakat pun tak mau membeli namun jika para produsen tidak melakukan produksi keripik tempe, akan dilematis karena merupakan mata pencaharian mereka,” ungkapnya. Cara mengurangi biaya produksi dilakukan dengan beberapa cara, misalnya peragian biasnaya dikerjakan oleh pegawai, namun sekarang dikerjakan sendiri. Sehingga tidak usah membayar orang lain untuk melakukannya. (mg13/nda)