Harga Kedelai Turun Tipis

Kabar cerah yang dinantikan oleh pengrajin tempe mulai bisa menghampiri awal pekan ini. Walaupun sedikit, harga kedelai mulai mengalami penurunan dua hari terakhir. Senin (16/9) kemarin, kedelai sudah berada pada harga Rp 9050/kilogram, turun Rp 150 dibandingkan hari sebelumnya.
Khoiril Anwar, Sekretaris Primer Koperasi Produsen Tahun dan Tempe Indonesia (Primkopti) Bakti Usaha menyebutkan, sejak akhir pekan lalu harga kedelai mulai turun. “Sebenarnya turun dari hari Sabtu lalu. Mulai dari Rp 50/kilogram, dan hari ini kembali turun Rp 150/kilogram,” sebutnya.
Penurunan yang ditunggu ini masih berlanjut setelah sempat menembus harga Rp 9500/kilogram untuk kedelai yang menjadi favorit pengrajin keripik tempe di Sentra Industri Sanan. Sedangkan di pasaran, minggu lalu harga kedelai berada di kisaran Rp 9500/kilogram sampai dengan Rp 10.500/kilogram.
Dia mengaku senang dengan penurunan harga kedelai. Sebab, setelah harganya terus melambung sebulan terakhir, Primkopti Bakti Usaha kerap menerima keluhan dari pengrajin tempe. Sementara, Primkopti tidak bisa melakukan banyak hal, kecuali mempermudah pembayaran dari anggotanya yang berjumlah 348 pengrajin.
Data terakhir tersebut sebelum kedelai naik, pasca kenaikan banyak pengrajin yang mengalami gulung tikar. “Sementara waktu banyak pengrajin menutup usahanya, karena kenaikan harga kedelai yang terjadi membuat keuntungan menipis. Sehingga mereka berpikir ulang untuk tetap produksi,” papar dia panjang lebar. Kemudian dia melanjutkan, selama gonjang-ganjing harga kedelai ini, hanya 209 pengrajin yang tetap aktif dan beroperasi.
Rasa senang, namun belum lepas ditunjukkan oleh pengrajin tempe di Kabupaten Malang. Rahmad Erianto, yang tetap berproduksi meskipun harga kedelai mahal terus berharap harga kedelai kembali normal. Saat ini, produksi tempenya telah mengalami kenaikan harga.
“Sejak dua minggu terakhir saya telah menaikkan harga tempe. Untuk balokan kecil dari harga Rp 11 ribu menjadi Rp 14 ribu, sedangkan balokan besar dari harga Rp 24 ribu telah menjadi Rp 30 ribu,” paparnya kepada Malang Post.
Meskipun harga kedelai sudah turun, dia belum menormalkan kembali harga tempe produksinya, karena sejauh ini penurunan harga kedelai belum mencapai Rp 500/kilogram. Rahmad masih berhitung lebih dalam, dan menunggu penurunan kembali untuk menormalkan harga dagangan tempenya. Saat ini dia harus membeli kedelai di tengkulak dengan harga Rp 9.500/kilogram, menurun Rp 300 dibandingkan sehari sebelumnya.
“Kalau sudah di kisaran Rp 8.000 ya mulai normal lagi harganya. Begitu pula produksinya, karena teman-teman pengrajin lain pasti sudah mulai beroperasi juga,” pungkas dia. (ley/fia)