Harga Gadget Merangkak Naik

MALANG – Harga gadget terus naik pasca melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Bahkan, diakui oleh pelaku bisnis di Kota Malang, khususnya di pusat perbelanjaan, peningkatan hampir terjadi setiap minggu dan membuat pasar gadget cenderung lesu. Guruh Andreanto, Owner Acer Utama Malang Town Square (Matos) mengakui, kenaikan selalu terjadi dalam jarak yang dekat. Bahkan, seminggu bisa mengalami dua kali kenaikan harga.
“Mungkin karena kondisi perekonomian di Indonesia belum stabil, sehingga naiknya nanggung, lalu belum genap seminggu naik lagi,” ujarnya sembari menunjukkan pengumuman kenaikan harga laptop via smartphonenya. Menurut dia, kondisi tersebut membuat tenantnya mengalami penurunan penjualan laptop maupun tablet. Bila dalam hari normal bisa menjual minimal 5 unit dalam sehari, maka kini di kisaran 2-4 unit. Tetapi, dia mengakui masih tertolong dengan tahun ajaran baru, sehingga Acer Utama masih menerima pembelian asesoris lain dan juga servis dari pelajar serta mahasiswa.
“Ya tertutup dengan penjualan item kecil, namun jumlah penjualannya lumayan banyak. Untuk unit kelas berat, masih harap-harap cemas, apalagi bila harganya naik,” imbuhnya. Penurunan kuantitas penjualan juga dialami oleh Global Teleshop yang berada di Matos. Average tiap hari kini hanya bisa menjual 4 unit. Padahal, bila hari normal penjualan ponsel di Global bisa mencapai 10 unit. Selain itu, penurunan juga bisa dilihat dengan target penjualan sebesar Rp 250 juta dalam sebulan belum terpenuhi di tengah bulan September ini.
“Baru 43 persen targetnya yang bisa tercapai, padahal minimal harus 50 persen tercapai di tengah bulan,” ujar Ayu Puspita, Customer Service Global Teleshop Matos. Menurut dia, kenaikan harga ponsel berada pada kisaran Rp 30.000 hingga Rp 400.000, tergantung jenisnya.
Di tempat terpisah, Tjioe Hok Liong, Store Manager Branded Store Dieng Plaza, menjelaskan sejak bulan Juli harga laptop di storenya mengalami peningkatan.  Mulai dari laptop untuk segmen low end hingga high end, kenaikan harga berkisar 3 persen sampai dengan 10 persen. Cenderung terus meningkat harganya, hingga September ini.
“Update harga terbaru per 9 September kemarin,” beber dia. Dilanjutkannya, bahwa kenaikan silih berganti untuk jenis laptop. Bila hari ini tipe Toshiba misalnya, minggu depan berganti pada merek Sony. “Begitu seterusnya, dan harganya membuat pasar laptop sepi,” keluhnya. Tjioe pun mengungkapkan, bahwa barang elektronik seperti laptop yang sebagian besar merupakan produk impor memang harus mengikuti kurs rupiah. Karena nilai tukar dollar belum membaik, harganya pun tetap mahal. (ley/mar)