Harga Kedelai Sudah di Bawah Rp 9000

Setelah mengalami penurunan untuk pertama kali di akhir pekan lalu, harga kedelai terus turun, meskipun kuantitas penurunan harga tidak signifikan, antara Rp 50 per kilogram sampai dengan Rp 150 per kilogram. Terbaru, Rabu (18/9) kemarin harga kedelai telah di bawah Rp 9000, dan membuat para pengrajin tahu tempe mulai berpikir untuk menormalkan kembali operasi produksinya.
Seperti dikatakan oleh Khoiril Anwar, Sekretaris Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Bakti Usaha, bahwa harga kedelai kemarin mulai dari Rp 8900 per kilogram.
“Harganya mulai turun lagi, bila Senin lalu Rp 9050 per kilogram, Selasa sudah menjadi Rp 9000 per kilogram. Hari ini (kemarin) harganya Rp 8900 per kilogram. Itu harga jual kami kepada pengrajin di Sentra Industri Sanan ini,” kata dia.
Dia mengakui, sejak dua hari terakhir beberapa pengrajin yang sempat hilang karena kenaikan kedelai sudah muncul kembali, walaupun belum semuanya. Sebab, melonjaknya harga kedelai, membuat 130 lebih pengrajin menghentikan produksinya. “Bila dipaksa produksi, keuntungannya juga tidak seberapa, dan terpaksa untuk biaya sehari berikutnya dalam membeli kedelai yang telah naik,” ujarnya.
Primkopti berharap harga segera normal kembali, atau bila susah setidaknya harganya bisa menembus Rp 8000 per kilogram. Harga demikian meski tergolong masih tinggi, namun terhitung terjangkau bagi pengrajin. Lebih lanjut dia berujar, pengrajin di Sanan juga tidak mungkin terlalu lama untuk berhenti, karena roda ekonomi tidak terbatas dengan memproduksi tahu dan tempe saja. Masih ada ternak sapi yang membutuhkan pula ampas dari kedelai.
Sementara itu, salah satu pengrajin keripik tempe berujar, bahwa harga olahan kedelai yang dia beli masih cukup tinggi. “Harganya kok belum turun ya dari pengrajin tempenya. Jadi, harga kulakan tempe saya pun masih mahal,” ujar Iin, Pemilik Melati Keripik Tempe.
Saat ini, Iin harus mengeluarkan budget sebesar Rp 480 ribu untuk membeli satu paket tempe yang bisa menghasilkan 150 kilogram keripik tempe. Harga itu jauh melonjak dari harga normal sebesar Rp 400 ribu. Menurutnya, kalau memang turun berarti menjadi jawaban keluhan pengrajin selama ini.
“Kami belum berani menaikkan harga, dan untuk sementara mengambil untung tipis. Bila dihitung bisnis, tidak ada untungnya selama sebulan terakhir pasca lebaran,” beber dia. Masih menurut dia, memang dua hari terakhir ini beberapa pengrajin keripik tempe sudah mulai beroperasi, meskipun belum semua. (ley/fia)