Kalung dari Era Majapahit hingga Tulang Punggung Ikan Pari

Perhiasan, tak sekadar penjadi pelengkap penampilan, namun juga memiliki nilai histori yang tak kalah menarik dari desainnya. Sentuhan artistik dari desainer dipadu dengan bahan berkualitas tinggi menjadi mahakarya yang jika di-kurs’kan ke rupiah akan menjadi simbol lifestyle modern.
Hal itulah yang terlihat di Tugu Bijoux Deluxe – The Art of Personal Adornment Jewelery Exhibition and Sale dalam rangka Tugu Mid Autumn Festival 2013. Irwan William Holmes, salah satu desainer perhiasan kelahiran New York City ini membawa sekitar 80 perhiasan untuk dipamerkan dalam kegiatan yang digelar mulai 20 September hingga 20 Oktober tersebut.
“Ada tiga golongan perhiasan yang saya bawa ke sini. Ada perhiasan Majapahit, batu asli Indonesia, dan bahan lain seperti kayu dan lainnya. Saya selalu mencari bahan-bahan yang berbeda. Terbaru, saya membuat perhiasan dari tulang punggung ikan pari,” urai pria yang telah menetap di Indonesia selama 44 tahun tersebut.
Anggota Subud (Susila Budhi Dharma) ini menambahkan, jaman Majapahit memang menjadi salah satu fokus inspirasi perhiasan buatannya. Jaman tersebut menurut Irwan memberikan peninggalan seni yang luar biasa.
“Saya menggunakan bahan yang tak biasa. Salah satunya adalah kalung yang terdiri dari susunan bel yang dibuat pada jaman Majapahit.,” kanya.
Kalung berupa susunan bel berbahan perak dan perunggu tersebut merupakan peninggalan kerajaan Majapahit sekitar abad 13 hingga 16 Masehi. Harga untuk kalung tersebut adalah Rp 25 juta.
“Kalau dipakai berbunyi. Entah, apakah ada orang Malang yang cukup berani memakainya,” sembari berseloroh.
Pria yang pernah mendesainkan perhiasan untuk beberapa tokoh kenamaan seperti Mick Jagger, Dionne Warwick, Michelle Obama, duta besar hingga kaum bangsawan ini mengaku memiliki ketertarikan sangat besar terhadap kekayaan batuan di Indonesia.
“Seperti batu kalimaya (opal) dan fossilized coral yang hanya terdapat di Indonesia. Orang-orang di luar negeri berani bayar mahal untuk batuan tersebut, sayangnya orang Indonesia sendiri malah tidak tahu,” katanya.
Jika Irwan konsisten mengeksplorasi batuan Indonesia, desainer perhiasan muda, Donna Angelina Sugianto justru tengah mencari stylenya sendiri. Dara kelahiran 15 Maret 1982 ini mulai mengekplorasi gaya kendati masih mempertahankan unsur Indonesia dalam karyanya.
“Saya tak ada tema khusus untuk pameran kali ini. Semua saya bawa. Total ada 100 perhiasan yang dipamerkan. Sebagian komersil, sebagian lagi mengandung unsur art,” jelas Donna.
Untuk membuat perhiasan, Donna mengaku mendapatkan inspirasi dari alam. Salah satu contohnya adalah kalung yang merepresentasikan batuan sungai. Logam perak berbentuk batu disusun sedemikian rupa dimana di salah satu sisi diberi sapuan warna gold.
“Perhiasan ini idenya diambil dari batuan kecil (kerikil). Saya tangkap image bebatuan di sungai, kemudian direpresentasikan dalam perhiasan,” jelasnya.
Executive Assistant Hotel tugu Malang, Crescentia Harividyati mengatakan, kegiatan tahunan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia.
“Selain Irwan William dan Donna Angelina, pameran kali ini juga penampilkan koleksi Manjusha Nusantara dan Daphne Zepos,” tutur dia.
Selain pameran perhiasan, di acara Mid Autumn Festival tersebut juga disajikan menu-menu tematik Shanghai Blue 1920. Ada banyak menu yang disajikan seperti Tai Tai Soup, kepiting soka telor asin, chan mo sang grandma special, chilled eight treasure of shanghai blue dan masih banyak lagi. (fia)