Bulog Segera Beli Kedelai Lokal

MALANG – Harga kedelai yang melonjak belakangan membuat pemerintah turun tangan dengan sebuah kebijakan untuk menyerap kedelai lokal. Melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) pemerintah berharap harga kedelai bisa segera normal, dan tidak timbul keresahan serupa di kemudian hari.
Nina Afrisanti, Kepala Perum Bulog Kantor Sub Divisi Regional VII Malang menuturkan, bahwa setiap sub divisi harus segera menyerap kedelai lokal. “Bulog segera melakukan tugasnya untuk membantu pengrajin tahu tempe. Dan saat ini kami sedang menyiapkan materinya, bulan depan ditarget sudah bisa menyalurkannya,” tuturnya.
Menurut dia, selain sudah melakukan survey tentang wilayah potensial kedelai di Jawa Timur, Bulog juga mulai melakukan pembelian kedelai lokal. Masih ditambah juga kerjasama dengan pemerintah daerah di bawah Sub Divre VII untuk mengetahui total kebutuhan kedelai yang ada. Khususnya untuk kedelai lokal, yang siap dipatok dengan harga Rp 7.000 oleh pemerintah
“Di pasaran, harga kedelai lokal relatif lebih mahal dari harga pokok pembelian (HPP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 7.000 per kilogram. Sehingga Bulog harus melakukan pembelian dengan harga di atas HPP, yaitu sekitar Rp 8.200 hingga Rp 8.500 per kilogram,” papar dia panjang lebar.
Nina melanjutkan, disamping mencari daerah potensial, Bulog mesti melakukan sosialisasi dengan kelompok tani. Namun karena kelangkaan komoditas tersebut di pasaran, maka realisasi pembelian tidak bisa maksimal. Bulog juga memaklumi dengan kekurangan di tingkat petani, karena kedelai menjadi rebutan. Sebab yang melakukan pembelian tidak hanya Bulog, namun ada pula tengkulak dan importir.
“Importir pun berburu, sebab kedelai impor juga langka. Kondisi ini membuat harga kedelai lokal tinggi. Selain itu, keberadaan kedelai di Jatim juga dibawa keluar daerah, sehingga semakin membuat kedelai susah ditemukan,” urai perempuan berjilbab itu.
Sementara untuk area Jatim saat ini jumlah produksi kedelai yang ada mencapai 400 ribu ton per tahun, dan tersebar di wilayah seperti Banyuwangi, Bondowoso, Blitar, Pasuruan, Madiun, Kabupaten Malang dan Jember. Area tersebut yang menjadi wilayah Bulog berburu kedelai, demi mensukseskan program pemerintah dalam menyerap kedelai lokal. “Namun masih belum maksimal dalam penyerapan, sebab masa panen kedelai masih menunggu di musim penghujan antara Oktober atau November,” tambahnya.
Mengenai jumlah penyaluran, Bulog menyesuaikan petunjuk kepala Sub Divre Jatim, dan mempertimbangkan pula kapasitas gudang penyimpanan kedelai. Sebab, kapasitasnya hanya 10 ribu ton untuk Sub Divre 7 yang membawahi Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan. (ley/fia)