Pelemahan Rupiah Lambungkan Harga Buah

MALANG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam kurun waktu yang lama berdampak pada harga buah impor. Sehingga beberapa jenis buah mengalami kenaikan drastis, bahkan ada beberapa yang harganya naik dua kali lipat.
Sales Manager Fresh Product Carrefour Market Malang Blimbing, Ninik Indrawati, mengatakan, harga buah terus mengalami kenaikan sejak triwulan kedua 2013 atau tepatnya sejak ada kebijakan pembatasan mengenai produk import yang dikeluarkan pemerintah.
“Mahalnya beberapa buah impor terjadi sejak Mei lalu, ketika pemerintah membatasi jumlah peredaran buah asing di Indonesia,” ujarnya.
Saat itu, lonjakan harga sempat terjadi selama beberapa minggu, dan berangsur-angsur harga turun, namun masih lebih mahal. Kemudian harga buah impor stabil pasca pembatasan, dan mulai naik lagi beberapa minggu terakhir bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
“Harga memang lebih mahal, tetapi tidak seperti sekarang, khususnya buah seperti durian monthong,” imbuhnya.
Menurutnya harga buah durian dari Thailand tersebut naik 2 kali lipat dibandingkan dengan harga di awal tahun. Bila harga durian sebelumnya pada kisaran Rp 18 ribu sampai dengan Rp 25 ribu per kilogramnya, kini harga durian montong menembus Rp 40 ribu per kilogram. Bahkan bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Kondisi itu berpengaruh pada minat dan daya beli masyarakat, yang kini lebih memilih buah lokal dengan harga lebih terjangkau.
Pada dasarnya kebijakan pemerintah tersebut menolong petani lokal untuk menaikkan harga jual buah dalam negeri. “Sama halnya dengan buah impor dari Cina, Amerika maupun Selandia Baru, harga buah dalam negeri pun mengalami kenaikan, namun relative masih terjangkau,” jelas Sutrisno, Divisi Manager Fresh Product Hypermart Malang.
Namun, mahalnya harga tersebut kerap dikeluhkan oleh masyarakat. Sebut saja Lengkeng impor, yang dulunya pada kisaran harga Rp 12 ribu sampai Rp 16 ribu per kilo, kini harganya selalu pada kisaran Rp 32 ribu ke atas.
“Harga Lengkeng dan Durian dari Thailand naik dua kali lipat, bahkan bisa lebih. Tentu saja kini masyarakat menahan diri untuk membelinya,” bebernya kepada Malang Post.
Meskipun buah lain juga naik, dijelaskan oleh Sutrisno, tetapi kenaikan tidak seberapa. Seperti Apel dari Amerika atau Jeruk dari China, kenaikan maksimal 30 persen dan  harganya masih bisa diterima. Bahkan kadangkala juga sempat mengalami penurunan.
Masih menurut Sutrisno, karena buah impor mahal maka volume penjualan pun jauh lebih menurun. Omzet bulan Hypermart untuk kategori fresh product khususnya fresh fruit pun mengalami penurunan sampai 30 persen.
Dia pun berharap kondisi ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah segera membaik, agar harga harga buah impor tidak semakin melambung. (ley/fia)