Investor Masih ‘Cuek’ dengan Dananya

MALANG – Ternyata tidak semua investor yang menyerahkan uangnya di bursa saham, memonitor aset-aset investasi mereka. Bahkan ada kecenderungan, para investor lebih mempercayakan kepada broker.
Padahal, pemilik saham bisa memonitor aset investasi itu melalui fasilitas yang diberikan oleh PT Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) melalui AKSes (Acuan kepemilikan Sekuritas).
Padahal, kesadaran dan peran investor secara aktif dalam melakukan monitoring aset investasi, dari investor melalui fasilitas yang diberikan oleh AKSes, sangat penting dalam mengurangi penyalahgunaan pihak tidak bertanggung jawab.
Penegasan itu disampaikan Syafruddin, Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Usaha KSEI, ketika berkunjung ke kantor redaksi Malang Post, kemarin.
Kedatangan rombongan KSEI tersebut, didampingi Bursa Efek Indonesia Surabaya. Mereka melihat, untuk meningkatkan minat investor terjun di pasar modal, perlu terus ada edukasi. Salah satunya lewat media cetak. ‘’Karena di Malang, kami harus mampir ke Malang Post. Sebagai media besar di Malang, kami percaya edukasi lewat koran, akan sangat efektif,’’ katanya.
Dijelaskan Syafruddin, kartu AKSes sendiri sebenarnya sudah diimplementasikan sejak 2009 lalu. Hanya saja, saat ini dari seluruh investor yang menanamkan modalnya di bursa saham, belum 15 persen yang mengakses AKSes tersebut. Meski untuk bisa mengakses informasi itu, tidak dipungut beaya.
Tugas KSEI itu sendiri, lanjut pria yang akrab disapa Alex ini, adalah sebagai sebuah lembaga yang bertugas menyimpan semua efek, baik itu saham maupun obligasi, dari investor yang bertransaksi di pasar saham.
‘’Jadi dengan adanya KSEI, penyimpanan saham disentralkan dalam bentuk elektronik. Sedangkan yang menjalankan aktivitas di pasar saham merupakan broker,’’ beber pria yang akrab dipanggil Alex ini.
Sementara itu menurut Nur Harjantie, Head of Information and Marketing Bursa Efek Indonesia, di Indonesia dari total jumlah investor hingga bulan September ini yang belum menembus angka 400 ribu pengguna AKSes baru mencapai 13 persen. Per 23 September lalu datanya baru sebesar 39.693 orang yang memanfaatkan fasilitas AKSes. ‘’Entah memang broker belum mengajari, atau memang investor tersebut yang enggan mengaksesnya,’’ tuturnya.
Selain itu BEI juga berharap, melalui diskusi yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut, agar Jawa Timur khususnya Malang lebih bergairah lagi aktivitasnya di pasar modal, sebab tingkat ekonomi di Malang tergolong maju.
Hal tersebut bisa dilihat dengan jumlah sekuritas yang berada di Kota Malang mencapai 15 dan segera bertambah 1 lagi. Masih ditambah dengan galeri investasi yang berada di kampus yang tersebar di Malang mencapai 8 galeri.
‘’Dalam waktu dekat malahan akan bertambah 2 lagi, sekarang masih dalam proses pembicaraan antara sekuritas, BEI dan kampus yang bersangkutan,’’ terang perempuan berjilbab tersebut.
Selanjutnya, diskusi antara Malang Post, BEI dan KSEI pun membahas mengenai potensi tinggi di Kota Malang, serta harapan adanya media yang mampu mensupport dalam menumbuhkan gairah investor untuk bermain di pasar modal.
Perempuan lulusan Universitas Brawijaya ini pun menilai, tingginya aktivitas perekonomian yang ada di Kota Malang diharapkan menunjang gairah pasar modal.
Terbukti, setiap tahunnya selalu bertambah jumlah investor. Tidak hanya dari kalangan pengusaha, mahasiswa pun kini tertarik untuk berinvestasi saham.
Begitu Malang Post menyampaikan mengenai beberapa data mengenai pertambahan jumlah mahasiswa yang semakin tinggi setiap tahunnya, maka diperbincangkan pula tentang mobilitas ekonomi.
Tahun ini saja, di Universitas Brawijaya pertambahan mahasiswa sebanyak 16 ribu, belum kampus besar lain, serta beberapa perguruan tinggi lain.
‘’Dari fakta ini, potensial ekonomi sangat tinggi. Bila pelaku bisnisnya pintar, serta menanamkan sebagian dananya untuk investasi di pasar modal, keuntungan bisa lebih besar. Ditambah kami berharap ada perusahaan yang mau turut menawarkan sahamnya di lantai bursa,’’ papar perempuan yang biasa disapa Nunung ini.
Sebelum mengakhiri diskusi, Nunung berharap Malang Post bisa menjadi salah satu media yang memiliki space untuk menginformasikan tentang bursa atau pasar modal, dan juga bersedia mensuport segala bentuk sosialisasi dari BEI dan KSEI. ‘’Terlebih media kan lebih dekat dengan semua lapisan masyarakat luas, dan beritanya bisa berdampak lebih bagi mereka,’’ urai dia. (ley/avi)