Indeks Melemah, Oktober Berbahaya

MALANG – Menutup bulan September Senin (30/9) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah. Indeks dibuka pada level 4402, melemah 21 poin dibandingkan dengan penutupan akhir pekan kemarin. Hingga penutupan pun IHSG kembali lebih rendah daripada saat pembukaan. Kondisi ini membuat sentiment negatif broker yang kerap melihat perkembangan bursa, bahwa di bulan Oktober ini menjadi saat berbahaya bila berspekulasi di pasar saham.
Kardiono, Branch Manager SucorInvest Malang menyampaikan, IHSG pada penutupan malah lebih rendah lagi pada level 4316, atau menukik mencapai 107 poin. “Indeks awal pekan ini menurun, dan prediksinya bakal terus turun sebab sudah memasuki Oktober,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa faktor mempengaruhi di awal pekan ini. Salah satunya, investor langsung mengamankan portofolio dengan melepas saham sebelum harganya makin jatuh. Perusahaaan besar turut melepas sahamnya. Sentimen negatif yang beredar di awal pekan, baik di pasar regional dan global turut berpengaruh. Selain itu, saham unggulan dilepas investor.
“Koreksi yang dilakukan oleh industri di lantai bursa tergolong dalam, rata-rata lebih dari satu persen. Hal ini juga membuat investor berpikir ulang, dan hasilnya indeks sama sekali tidak menyentuh zona hijau hari ini,” imbuh dia.
Dia memprediksi, saham akan melemah hingga kedalaman 4200an di pekan ini. Penyebabnya, laporan tiga bulanan perusahaan biasanya berpengaruh kepada minat investor, dalam mempertahankan sahamnya atau justru melepas.
“Oktober ini lebih baik tidak berspekulasi terlebih dulu di pasar modal,” imbuh pria yang kerap dipanggil Nando ini.
Apalagi bila berkaca pada analisis internasional, di bulan Oktober dan awal pekan merupakan masa kritis dan berbahaya untuk perdagangan saham. Berdasarkan pengalaman yang ada, penurunan sebesar 3 persen kerap terjadi di bulan tersebut.
Meskipun IHSG kondisinya menurun, dia tetap menyarankan bila ada investor lebih baik memilih perusahaan yang minim terpengaruh meskipun indeks melemah. “Seperti Astra, BRI atau Malindo. Jarang sekali terkena imbas meskipun lantai bursa tertekan,” pungkas dia. (ley/fia)