Kedelai Tak Pengaruhi Inflasi

MALANG – Kendati selama September terjadi kenaikan harga beberapa produk bahan makanan, namun hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatatkan angka deflasi atau penurunan harga sebesar 0,57 persen.
Kasi Statistik dan Distribusi BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini menjelaskan, deflasi atau penurunan harga tak hanya terjadi di Malang namun  juga di seluruh wilayah Jawa Timur dan nasional.
“Deflasi terbesar terjadi di Sumenep, sebesar 1,44 persen, terrendah di Surabaya sebesar 0.02 persen,” jelas Erny kepada Malang Post.
Ia menambahkan, angka deflasi tersebut juga dibarengi dengan penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 146,13 di Agustus 2013 menjadi 145,30 di bulan September. Sementara, laju inflasi tahun kalender 2013 yaitu 6,93 persen sedangkan inflasi year on year sebesar 8,16 persen.
“Angka deflasi ini dipicu oleh harga-harga komoditas yang berangsur normal pasca lebaran,” jelas perempuan berjilbab ini.
Ia menuturkan, kelompok bahan makanan menyumbangkan deflasi paling besar yaitu -2.84 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0.33 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0.16 persen, kelompok sandang 2.36 persen, kelompok kesehatan 0.08 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0.21 persen serta kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan -0.33 persen.
“Pada bulan September memang ada kenaikan harga kedelai. Namun prosentase pengaruhnya terhadap inflasi kecil. Sehingga tidak sampai mengangkat angka inflasi di bulan tersebut,” papar dia.
Selain bahan pangan, penurunan terlihat signifikan juga terlihat pada biaya transportasi.  Tarif pesawat yang menurun setelah peak season selama lebaran dan pemangkasan tarif kereta api jarak jauh yang dilakukan PT KAI memberikan efek yang cukup besar terhadap inflasi.
“Tarif kereta Matarmaja dari Rp 135 ribu menjadi Rp 65 ribu. itu pengaruhnya cukup lumayan,” tambahnya.
Erny menambahkan, ada sepuluh komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya inflasi di bulan September yaitu  tempe, tahu mentah, emas perhiasan, mobil, mie, besi beton, rokok kretek, daging ayam ras, nangka muda dan tarif kolam renang.
Sementara, sepuluh komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi di bulan September adalah bawang merah, tomat sayur, cabe rawit, telur ayam ras, tarip kereta api, cabe merah, wortel, angkutan udara, tauge, dan kacang panjang.  (fia)