Langgengkan Rokok Ilegal, Potensi PHK Besar-Besaran

Rencana kenaikan target penerimaan cukai rokok pada tahun 2014 ditentang oleh industri-industri rokok kecil dan menengah yang tergabung dalam Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (FORMASI). Menurut mereka, wacana kenaikan tersebut tidak relevan dan terkesan dipaksakan.
Jika tahun depan pemerintah bersikeras menaikkan cukai sebesar 5 persen, ditambah pajak daerah yang naik 10 persen, bisa dipastikan pengusaha rokok, khususnya skala kecil dan menengah akan semakin terjepit.
Mereka juga bakal sulit bersaing karena harga rokok akan semakin meningkat, lantaran peredaran rokok ilegal juga kian marak. “Dari data yang kami himpun, peredaran rokok ilegal pada tahun 2013 mencapai 13 Milyar batang dengan nominal Rp 5 Triliun,” ungkap Sekjen FORMASI, JP Suhardjo.
Dia lantas mencontohkan negara seperti Malaysia yang menerapkan peraturan ketat terhadap rokok juga mengalami hal serupa. Bahkan peredaran rokok ilegal di negara tetangga tersebut sudah tembus hingga 60 persen dari rokok legal yang ada. “Artinya, jika peraturan ketat diterapkan di Indonesia, malah bisa menjadi blunder,” urainya kepada Malang Post.
FORMASI berpendapat, pemerintah semestinya memperbaiki tata kelola industri rokok nasional dan target penerimaan negara tidak melulu dari cukai rokok saja. Jika cukai tetap dinaikkan, kondisi industri rokok nasional akan terancam. Sebaliknya, ini menjadi stimulus bagi tumbuhnya rokok-rokok ilegal, yang malah merugikan pemerintah.
Apabila kebijakan menaikkan cukai rokok dilanjutkan, maka tak ada opsi lain bagi industri kecil dan menengah untuk mengurangi jumlah karyawan. “Industri rokok kecil dan menengah harus tetap survive. Tak ada jalan lain. Karena itulah, kami mengingatkan pemerintah bahwa efeknya bisa berimbas lintas sektoral,” papar Suhardjo.
Maka, bisa dibayangkan berapa banyak jumlah pengangguran akibat PHK besar-besaran yang dilakukan pabrik rokok kecil dan menengah yang tak sanggup bertahan setelah dihantam kenaikan cukai.
Pada tahun 2008 silam, masih ada 400 pabrik rokok yang tersebar di Malang Raya. Dari data terbaru, saat ini tak lebih dari 70 pabrik kecil dan menengah yang survive. Mirisnya, hanya yang 40 pabrik yang tercatat aktif di bea cukai. (tom/nda)