IHSG Naik Tipis, Pasar Masih Sepi

MALANG – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini berhasil naik meski jumlahnya hanya tipis, yakni 9 poin menuju level 4590. Naiknya IHSG tersebut terkesan tersendat meskipun sentimen positif di pasar global sudah kembali muncul, salah satu penyebabnya adalah adanya aksi ambil untung dari pemilik modal.
Branch Manager PT Sucorinvest Central Gani, Kartono menerangkan, frekuensi perdagangan yang ada masih sepi, meskipun sempat menyentuh level tertinggi pada posisi 4611, saat penutupan perdagangan indeks tidak bisa bertahan di level 4600an.
 “Awal pekan ini kurang bergairah untuk perdagangan saham, sehingga untuk naik atau turunnya saham juga tipis. Transaksi ambil untung lebih mendominasi,” terangnya.
Menurut pria yang akrab dipanggil Nando ini, sepinya perdagangan bisa dilihat dari rekap, sebanyak 135 saham naik, sisanya 78 saham turun, dan 97 saham stagnan. Untuk frekuensi transaksi sebanyak 68.892 kali,  volume 2,174 miliar lembar saham dan senilai Rp 2,412 triliun. Saham-saham terbaik yan menjadi acuan di hari kemarin seperti Indofood (ICBP) dan  Mayora (MYOR), sedangkan saham yang mengalami penurunan milik Indocement (INTP) dan Smart (SMAR).
Sementara itu menurut Head of Marketing Reliance Securities, Venus Kusumawardhana, sepinya perdagangan saham salah satunya menunggu kepastian pasar. Kebanyakan hanya melihat kondisi pasar, kemudian memanfaatkan bila benar-benar menguntungkan. Hasilnya, saham tidak terlalu bergerak, bahkan sejak pertengahan Oktober ini. “Di Malang saja sudah terlihat sepi. Kebanyakan nasabah kami memilih melakukan trading dari rumah,” bebernya kepada Malang Post.
Bila pasar saham dalam kondisi bagus, sebagian besar nasabah sekuritas pasti intens melakukan konsultasi untuk membeli saham, dan itu tidak terjadi saat ini. Venus menambahkan, nasabahnya hanya bertanya via seluler bila hendak membeli saham, sembari berkonsultasi.
Dia memaklumi keadaan sepi tersebut, khususnya bagi yang berinvestasi melalui pasar modal di Kota Malang yang mulai paham segera berlakunya perubahan fraksi di bulan Desember mendatang. “Mulai 2 Desember nanti, pemberlakuan lot baru yang lebih menguntungkan. Tampaknya masih menunggu itu, kurang sebulan lagi,” jelas dia.
Pemberlakuan fraksi baru (jumlah lembaran saham per lot) dalam bertransaksi ini menjadikan kesempatan pemilik modal untuk membeli saham dalam jumlah lebih besar. Bila sebelumnya pembelian 1 lot sebanyak 500 lembar, maka terbaru nanti menjadi 100 lembar saja. Kondisi ini yang memungkinkan pemilik modal kecil lebih sering bertransaksi.  “Tujuan utama pemberlakuan fraksi ini memang untuk menjangkau kalangan kecil seperti mahasiswa dalam aktivitas di pasar modal. Mereka banyak yang menunggu itu benar-benar berlaku,” pungkasnya. (ley/han)