Aturan Baru Lot Saham Gairahkan Investasi

MALANG - Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan untuk menunda kebijakan perubahan fraksi harga (tick price) dan jumlah lot saham yang berlaku di pasar modal. Awalnya perubahan tersebut berlaku pada tanggal 1 Desember tahun ini, namun kini telah diputuskan untuk menunda hingga Januari tahun 2014.
Head of Capital Market Information BEI Surabaya, Nur Harijantie menyampaikan, penundaan tersebut berlaku hingga tahun depan. “Kemungkinan mulai efektif 6 Januari, asal tidak ada halangan lagi,” ujarnya.
Menurut dia, banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menuju kesana, misalnya saja sistem perdagangan yang baru. Intinya penundaan ini lebih disebabkan faktor kesiapan, agar setelah perubahan fraksi harga dan jumlah lot saham, pasar modal semakin bergairah.
Beberapa bulan lalu, BEI telah menetapkan peraturan baru tentang fraksi harga dan jumlah lot saham, serta dilakukan bersamaan. BEI akan mengubah jumlah satuan lot saham dari 500 saham menjadi hanya 100 saham. Kebijakan ini bertujuan utama agar transaksi di BEI lebih likuid (lancar).
Pasalnya, dengan kebijakan baru tersebut investor bisa melakukan transaksi dengan lebih murah. Misalnya saja, harga per saham perusahaan X sebesar Rp 2000. Maka, untuk mentransaksikan satu lot saham, investor harus menyiapkan dana Rp 1 juta. Namun, dengan kebijakan baru, maka investor hanya perlu mengeluarkan dana Rp 200 ribu
Selain perubahan jumlah lot saham, BEI juga memberlakukan ketentuan tick price baru. Saat ini, semua saham yang berada di bawah Rp 200 per saham memiliki fraksi Rp 1. Artinya, batas harga antara transaksi jual dan beli yang diajukan investor memiliki kelipatan Rp 1. Misalnya, saham Y yang memiliki harga Rp 50 per saham, maka pengajuan harga jual dan beli harus kelipatan Rp 1, yaitu Rp 51 per saham dan Rp 52 per saham, dan seterusnya.
Lalu, untuk kelompok saham Rp 200-Rp 500 memiliki fraksi Rp 5. Bagi saham di kisaran Rp 500- Rp 2000, fraksi sahamnya sebesar Rp 10, dan Rp 2000- Rp5000 sebesar Rp 25. Terakhir saham yang memiliki harga di atas Rp 5000 memiliki fraksi sebesar Rp 50.
Dalam ketentuan baru, BEI mempersempit kelompok saham tersebut. Saham dengan harga di bawah Rp 500 fraksi harganya Rp 1, kelompok saham pada harga Rp 500 - Rp 5000 memiliki fraksi Rp 5, dan untuk saham di atas Rp5000 dicatatkan dengan fraksi harga Rp 25.
Tujuan dari perubahan fraksi harga ini adalah meningkatkan likuiditas pasar, efisiensi, dan meningkatkan kedalaman dalam transaksi. “Ketentuan mengenai perubahan fraksi harga ini akan mendekatkan jarak antara permintaan dan penawaran (bid and offer). Sehingga, realisasi transaksi diharapkan bisa lebih banyak terjadi,” bebernya.
Sementara itu, Branch Manager Sucorinvest Malang, Kartono menyampaikan, mengaku senang dengan perubahan jumlah lot saham. Menurut dia, bisa jadi yang terjun di trading dari Malang bertambah besar. “Tujuannya memang menggairahkan pasar modal, agar pemilik modal kecil dan retil bisa membeli,” tandasnya.
Namun mengenai penundaan tersebut, dia menilai memang masih banyak penolakan mengenai perubahan fraksi saham. Terlebih dari kalangan investor, sebab aksi ambil untung dari pemilik modal lebih kecil kesempatannya. “Pemilik modal besar diminimalisir aksi ambil untungnya, dan mengurangi spekulan. Bagi broker sih sama saja,” urai dia. (ley/fia)