Harga Kedelai Masih Rp 8300

MALANG – Periode September lalu, harga komoditas kedelai menjadi sorotan karena harganya menembus Rp 10 ribu per kilo dan membuat pengusaha maupun pengrajin yang memakai komoditas tersebut kalang kabut. Selang dua bulan, harganya kini sudah jauh menurun menjadi Rp 8300 per kilo.
Sekretaris Primer Koperasi Produsen Tahun dan Tempe Indonesia (Primkopti) Bakti Usaha, Khoiril Anwar, memaparkan harganya terus menurun setiap minggunya, walaupun masih belum sesuai harapan. “Harganya memang sudah lebih murah dari pada bulan sebelumnya. Namun, kami masih berharap terus turun. Saat ini kalau turun rentangnya seminggu satu kali sampai dua kali,” papar dia.
Lebih lanjut dia menyampaikan, harganya diharapkan terus turun dan menembus dikisaran Rp 7000 per kg. Sebab menurutnya, harga tersebut tidak  memberatkan pengrajin tempe. “Kalau harapan di kisaran Rp 6500- Rp 7000. Tapi memang berat, minimal jangan di atas Rp 8000 lah,” bebernya kepada Malang Post.
Khoiril berharap dengan penurunan yang terus terjadi saat ini, beberapa pengusaha yang telah menutup lapak selama beberapa bulan terakhir kembali beroperasi. Dari 348 yang terdaftar di Sentra Industri Sanan, 20 persen diantaranya hingga kini belum beroperasi. Belum lagi pengrajin tempe di tempat lain yang tersebar di Malang Raya.
Namun dari penurunan harga yang masih terkesan belum maksimal ini ada kabar bahagia. Dalam waktu dekat, Bulog segera menyediakan kedelai dengan harga yang jauh lebih terjangkau sesuai standar pemerintah.
“November ini sudah ada sosialisasi dari Gakopti mengenai bantuan pemerintah melalui Bulog untuk mengurangi dampak kelangkaan kedelai suatu hari nanti,” imbuh dia.
Bila sudah terealisasi, Bulog akan menjadi perantara masyarakat melalui Primkopti. Lalu Bulog menyediakan kedelai tersebut, baik lokal maupun impor dengan harga yang normal di kisaran Rp 7000.
“Tapi harga pastinya juga belum disampaikan, begitu pula mulai kapan, namun sosialisasi sudah gencar,” pungkasnya. (ley/fia)