90 Persen Siap Hadapi Krisis

MALANG POST - Perekonomian global masih penuh dengan ketidakpastian hingga gejolaknya sampai ke dalam negeri. Kondisi terburuk, adalah jatuhnya sistem keuangan seperti krisis ekonomi RI pada tahun 1998 dan krisis Amerika Serikat tahun 2008. Pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tergabung dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) menyiapkan kondisi terburuk tersebut dalam bentuk simulasi.
“Kemungkinan terburuknya pasti kan krisis 1998, ya atau seperti Amerika atau global tahun 2008, yang colaps-nya suatu sistem. Itu yang harus kita cegah dari awal, kita punya crisis management protocol yang clear, kapan kita harus mulai hati-hati mengeluarkan kebijakan," ungkap Wakil Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro di Gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin.
Ia mengatakan hasil simulasi tersebut menggambarkan bahwa negara ini siap 90 persen jika terjadinya krisis. Artinya ada kesiapan penuh secara fundamental ekonomi yang telah disiapkan. Sebab dari simulasi tersebut ada gambaran nyata dari masalah yang dihadapi. “Kalau saya bilang yang kita miliki sudah 90 persen mewakili kondisi yang rill. Artinya masih ada yang perlu kita lengkapi dan perbaiki dan kita hilangkan misalkan kalau tidak perlu,” sebutnya.
Bambang menyebutkan, simulasi ini adalah sandiwara yang dihitung dalam matematika. Semua sektor diibaratkan tengah dilanda hantaman krisis. Kemudian masing-masing lembaga berada di posisinya untuk melakukan kebijakan dalam cepat. “Ini seolah-olah kita mengahadapi yang rill, mulai misalnya kemarin terjadi apa, dan harus diambil keputusan sore ini, jadi kita benar-benar simulasinya yang realtime. Iya, namanya respon cepat apa yang harus kita ambil, bukan hanya cepat, tapi cepat dan benar,” tegasnya.
Menurut dia,  ketika persoalan ini terjadi, tidak ada lagi yang bingung kebijakan apa yang akan diambil. Simulasi ini bisa dipraktikan ketika terjadi dalam satu atau dua tahun mendatang. “Iya bisa, ini kan anytime kalau betul-betul ada kejadian, kita sudah harus siap, tidak mana lagi mana bukunya, apa yang harus dilakukan. Paling tidak kalau kita terlibat langsung dan kejadian itu datang, kita nggak blank, jangan ada yang disalah-salah kan,” tambah Bambang.
Di luar itu, Bambang memastikan kondisi perekonomian domestik saat ini masih dalam tahap aman. Terlihat dari nilai tukar rupiah dan cadangan devisa. “Masih aman, artinya misalnya rupiah masih sesuai fundamental, dan cadev kita juga tidak turun, salah satu indikator itu kan turun dalam waktu pendek. Itu kita dalam bahaya tapi kita kan masih stabil,” tutupnya. (dk/mar).