Pelemahan Rupiah Bisa Sampai Tahun Depan

MALANG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya melemah dan mencapai Rp 12 ribu per USD. Pelemahan ke level ini sebenarnya telah diprediksi sebelumnya oleh pengamat ekonomi,
Guru besar Universitas Brawijaya Malang sekaligus pengamat ekonomi, Prof. Achmad Erani Yustika menuturkan, melemahnya rupiah terhadap dollar AS tidak terelakkan lagi. “Sejak pertengahan tahun ini, kecenderungan kearah sana memang mulai terlihat. Hanya saja ketika Rupiah sempat melemah ke level tertinggi beberapa bulan lalu, pemerintah masih berhasil menekan lajunya,” tuturnya.
Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena pemerintah tidak fokus memperhatikan masalah perekonomian. Kemudian, hal ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar, terutama investor asing. Lalu, terjadilah inflasi yang tergolong tinggi dan semakin melemahkan kondisi ekonomi di tanah air.
Lebih lanjut Prof. Erani menyampaikan, melemahnya rupiah ini juga karena tingginya permintaan maupun investasi masyarakat dalam bentuk dolar. “Sekalipun Bank Indonesia beberapa kali menaikan BI Rate untuk menghambat tingginya minat masyarakat berburu dolar AS, ya tidak mampu bertahan lama,” beber dia kepada Malang Post.
Kemudian, cadangan devisa juga akan semakin menipis bila terus digunakan untuk menggerojok pasar dengan rupiah. “Makanya, tidak heran sekarang sudah tembus Rp 12.000. Bisa lebih tinggi lagi bila pemerintah tidak segera intervensi pasar,” sebutnya.
Sementara itu, dari kalangan perbankan mulai khawatir dengan kenaikan ini. Pasalnya, bila terus dibiarkan terjadi, bisa berdampak pada perbankan. Menurut Manajer Bisnis Bank Bukopin Cabang Malang, Abadi Nugraha Januarkus, saat ini efeknya memang belum terasa langsung bagi perbankan.
“Rasanya sudah lebih dulu melalui kenaikan BI Rate beberapa kali, hingga memaksa bank juga menaikkan suku bunga kredit. Melemahnya Rupiah saat ini, dampaknya masih pada nasabah, terutama nasabah besar yang bermain dalam perdagangan luar negeri atau impor,” papar Abadi.
Nasabah yang memiliki bisnis dengan bahan impor, terimbas sangat besar. Yang menjadi ketakutan perbankan lagi, dalam dua atau tiga bulan ke depan bila posisinya tidak berangsur membaik bisa berdampak pada Non Performing Loan (NPL) alias kredit macet yang tinggi. Padahal, selama ini perbankan berusaha keras untuk menjaga keuangannya untuk tetap liquid di tengah perekonomian yang sulit.
Kemudian Abadi menjelaskan, bila nasabah yang perbulannya harus membayar cicilan kredit bank sebesar Rp 100 juta, dengan melemahnya Rupiah, maka keuntungannya menipis. “Misalnya saja keuntungan bulanan Rp 200 juta bila ekonomi normal. Nah, kini keuntungannya berkurang, ambil minimalnya tinggal 120 juta. Pasti dia berpikir ulang untuk membayar kreditnya Rp 100 juta di bank. Dampaknya, ya menunda pembayar, akhirnya bank juga akan merasakan imbasnya,” urai dia panjang lebar.
Masih menurut dia, keadaan ini cukup berbahaya. Bisa jadi, posisi di Rp 12 ribuan akan bertahan lama, bahkan setelah pemilu. Namun dia berharap, setelah akhir tahun, Rupiah bisa stabil dan ekonomi kembali normal. “Saat ini dampak memang masih pengusaha besar, tetapi dalam satu atau dua bulan ke depan sudah merambah ke semua kalangan,” pungkasnya. (ley/fia)