Ekonomi Malang Tumbuh 7,57 Persen

PENYUMBANG: Keberadaan restoran menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi di Kota Malang. tampak suasana di Taman Indie Resto, Kota Araya.

MALANG – Pertumbuhan ekonomi di Kota Malang hingga akhir November ini tercatat tinggi di tahun 2013 ini. Bahkan, 2014 mendatang pertumbuhannya diprediksi tetap tinggi pula di kisaran 7-8 persen, seiring peningkatan daya beli masyarakat yang relatif tinggi.
Kepala Bagian Perekonomian Kota Malang, Mochammad Kharis mengatakan, saat ini pertumbuhannya sudah mencapai 7,57 persen. “Tahun ini pertumbuhan ekonomi di targetkan 5-10 persen, dan tahun 2014 pun masih di kisaran yang sama,” katanya.
Meskipun pertumbuhan ekonomi di tahun 2013 baru bisa diketahui dalam laporan akhir tahun walikota, namun masih dalam kisaran yang sama dengan tahun 2012 lalu. Menurutnya, tiga sektor turut menopang perekonomian yang ada, yakni Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) serta industri pengolahan dan jasa.
“Namun inflasi juga ikut tinggi di tahun ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Sekarang saja sudah di kisaran 4,6 persen,” jelas dia kepada Malang Post.
Kendati demikian, dia tetap optimis inflasi yang tinggi tersebut masih terkendali dan belum berujung pada kategori mengkhawatirkan. Menurut dia, Penyebab tingginya inflasi tersebut karena dalam waktu tertentu Kota Malang kebanjiran mahasiswa dari luar kota maupun luar pulau. Dia mencontohkan Universitas Brawijaya (UB) yang memiliki jumlah mahasiswa lebih dari 50 ribu orang.
Kemudian dari keseluruhan penduduk Kota Malang sebanyak 890 ribu jiwa, sepertiga diantaranya kategori mahasiswa. “Sekitar 320 ribu merupakan mahasiswa. Jika per bulan mahasiswa mendapat uang kiriman sekitar Rp 1 juta, berapa perputaran uang yang ada dalam setahun,” papar dia panjang lebar.
Bahkan, bila ditambah dengan warga luar kota Malang yang datang untuk berwisata atau berbelanja di Kota Malang, bisa mencapai 1 juta orang lebih. Dia tidak heran bila tingginya angka inflasi yang juga mengindikasikan daya beli masyarakat yang tinggi. “Yang penting terkendali. Misalnya inflasi rendah, maka daya beli juga rendah,” ucapnya.
Masih menurut dia, meski Kota Malang tidak banyak memiliki obyek wisata seperti Kota Batu maupun Kabupaten Malang, namun status sebagai kota pendidikan yang ditandai dengan sedikitnya 57 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta membuat perputaran uang di Malang cukup tinggi. Selain itu banyaknya hotel berbintang menjadikan Malang sebagai daerah tujuan favorit bagi wisatawan.
“Wisatawan yang datang lebih memilih menginap dan membelanjakan uangnya di Malang. Mereka memang datang ke Kota Batu atau Kabupaten Malang untuk berwisata, namun secara umum mereka bermalam dan berbelanja di Kota Malang,” tambah Kharis. (ley/fia)