Kota Malang Kelebihan Kamar Hotel

MALANG – Kehadiran hotel-hotel baru selama 2013 ini di Kota Malang menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa kalangan. Sebab, keberadaannya justru membuat penumpukan kamar hotel, dan ditakutkan bisa berujung pada persaingan tidak sehat di kalangan pebisnis perhotelan.
Hal tersebut diakui oleh Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah, Dwi Cahyono. Menurutnya, ada kesalahpahaman mengenai kebutuhan kamar hotel di Kota Malang saat ini. “Pemain baru berpatokan pada laporan atau pernyataan walikota sebelumnya yang menyebutkan Kota Malang kekurangan 2000 kamar lebih. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu,” ujarnya ketika ditemui di sela launching Atria Hotel and Conference, kemarin.
Padahal, bila semua berkumpul jadi satu, dan berdasarkan laporan dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, justru saat ini sudah surplus sekitar 1000 kamar. Bila saat ini dikabarkan kekurangan sekitar 1700an kamar, maka perlu adanya kesempatan untuk duduk bersama dari berbagai pelaku bisnis hotel dan pemerintah kota. “Sehingga benar-benar tahu berapa jumlah kelebihan yang saat ini terjadi,” ujar Dwi.
Selain itu, banyak yang menilai kebutuhan kamar hotel di Kota Malang patokannya adalah okupansi hotel baru yan mulai beroperasi 2012-2013, dan justru mengabaikan hotel-hotel lama. Menurut Dwi, memang beberapa hotel baru okupansinya tinggi. Hotel tersebut bisa tercatat tinggi karena memasang tarif yang terjangkau, padahal kategorinya bintang 3 atau bintang 4.
“Tapi harganya di kisaran bintang dua atau bahkan hotel melati. Walaupun tajuknya promo, tentu saja hal ini mematikan hotel lama, yang justru tidak berani menurunkan tarif, dan telah memiliki standar tarif,” papar dia panjang lebar.
Sementara itu menurut Ketua PHRI Kota Malang, Herman Sediyono, average hotel di Kota Malang seharusnya semua merata di atas 60 persen. Baru setelah itu bisa menentukan tingkat kebutuhan kamar terbaru. “Nah sekarang saja ada hotel yang okupansinya masih di kisaran 40 persen, terus bermunculan hotel baru,” tuturnya.
Herman juga menegaskan, jangan menggunakan peak season atau weekend sebagai acuan untuk menentukan kebutuhan kamar yang ada. Namun, okupansi hotel saat weekday, serta okupansi dari tempat wisata di Kota Batu bisa menjadi acuan.
“Bila memang hasilnya selalu di atas 60 persen, baru kehadiran hotel baru dianggap layak. Kalau sekarang, jangan bertambah lagi, kecuali memang yang sudah proses pembangunan dan izinnya sudah turun. Intinya, perlu pertemuan untuk membahas masalah ini kedepannya, agar semua hotel tetap merata pula tamunya,” pungkas Herman. (ley/han)