Catatan Akhir Tahun (1)

Hotel Menjamur di Berbagai Sudut Kota

SEBAGAI Kota Pendidikan, pergerakan ekonomi di Malang cukup tinggi, bahkan melebihi Jawa Timur. Tahun lalu, pertumbuhan Ekonomi mencapai 7,69 persen dengan angka kemiskinan hanya 5,5 persen.
Tingginya pertumbuhan ekonomi di Malang membuat banyak investor tertarik untuk masuk, salah satunya sektor perhotelan. Berdasarkan catatan terakhir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, dari total kebutuhan 4000 kamar, saat ini jumlah kamar hotel masih di angka 2500, sehingga masih ada kekosangan 1500 kamar yang bisa diisi oleh hotel-hotel baru.
Kekurangan kamar tersebut memang terlihat di lapangan, saat weekend, sebagian besar hotel fully booked dengan town occupancy  bisa mencapai 70 hingga 80 persen. Weekday pun tak kalah, tamu-tamu corporate juga terlihat keluar masuk hotel kendati intensitasnya tak setinggi saat weekend.
Karena itulah, tak heran bila Sepanjang 2013, hotel baru di Malang muncul bak cendawan di musim hujan. Mulai dari hotel minimalis yang populer disebut sebagai hotel budget hingga hunian sementara yang cukup mewah karena mengusung predikat bintang empat.
Ada Harris Hotel dan Atria Hotel and Conference yang mengusung bintang empat. Kedua hotel ini menawarkan kamar yang mewah lengkap dengan ballroom yang luas sehingga bisa dipakai untuk keperluan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition)
Di segmen hotel murah yang hanya menawarkan kamar, ibis Hotel dan Everyday Smart hotel. Konsep hotel budget ini pun baru populer di Malang tahun ini. dimana di hotel jenis ini, kebanyakan tamunya adalah orang-orang yang benar-benar membutuhkan tempat untuk tidur, tanpa fasilitas lain. Karena itulah harganya relatif lebih murah.
Sementara Best Western OJ Hotel dan Swiss bellin hotel yang percaya di segmen bintang tiga. Kendati pemain baru, namun hotel-hotel ini memiliki okupansi yang tak bsia dianggap remeh. Atria misalnya, hingga kahir tahun okupansinya telah mencapai 100 persen. Sedangkan Best Western OJ Hotel masih berada di angka 70 persen.
Keberadaan hotel-hotel baru ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain lama. Fasilitas dan harga kompetitif yang ditawarkan pemain baru sangat memikat konsumen. Bagaimana tidak, kondisi bangunan dan perabotan baru tentu lebih nyaman ketimbang kompetitornya yang terlebih dulu beroperasi.
Namun, kondisi bisnis memang seperti itu, wajar jika kompetitor terus bermunculan. Di satu sisi bisnis perhotelan yang semakin ramai akan memanjakan konsumen karena memiliki banyak pilihan hotel sesuai selera dan budget.
Di sisi lain, hotel harus bersaing lebih ketat demi memperebutkan kue konsumen, akan bagus jika persaingan tersebut berefek pada makin meningkatnya kualitas layanan kepada tamu, namun jika persaingan mengarah pada perang harga, maka efeknya akan bukan tidak mungkin jika kondisi tersebut berefek pada menurunnya kualitas layanan kepada tamu.
Melihat kebutuhan kamar, besar kemungkinan akan ada penambahan beberapa hotel di 2014. Apalagi ada beberapa titik strategis di Kota Malang yang berpeluang menjadi hotel. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi kartu mati bagi hotel-hotel lama.
Hotel yang notabene lebih senior harus segera membuat inovasi-inovasi layanan yang bisa memuaskan konsumen. Bukankan inti dari dunia perhotelan adalah kenyamanan tamu. Maka inovasi-inovasi membuat tamu nyaman perlu digali demi mempertahankan bahkan merebut kue bisnis perhotelan yang ada di Malang. (SHUVIA RAHMA)