Tamu Membludak, Countdown dengan Kentongan

MALANG – Ragam acara untuk menyambut tahun baru 2014 ini terjadi di Kota Malang. Salah satunya yang berlangsung di Taman Indie Resto, yang tahun ini menggelar acara dengan konsep kolonial, sehingga nuansa tempo dulu disajikan, baik melalui dekorasi hingga menu makanan.
Pergantian tahun ini Taman Indie coba menggabungkan tiga konsep malam tahun baru yang diangkat tiga periode sebelumnya. Mulai dari konsep bangunan kolonial berpadu kendaraan kuno untuk area depan. Pada bagian selanjutnya, begitu memasuki area lobi resto, jajanan tempo dulu mulai tersaji. Sebut saja arbanat dan gulali. Lalu di area selanjutnya merupakan area pasar, dimana tamu resto bisa memilih pasar yang menyediakan menu favoritnya.
“Sebenarnya untuk bagian lobi dan pasar ini merupakan gabungan. Seharusnya ada tempat di area bawah, berpadu dengan aliran sungai. Demi faktor keamanan, konsep pasar apungnya dibatalkan, karena arus sungai sedang deras,” ujar Manager Taman Indie Resto, Nanang Wintoro.
Meskipun begitu Nanang memastikan gelaran tersebut masih sesuai dengan rencana cadangan. Sebab sudah ada antisipasi jika ada masalah seperti hujan dan arus sungai yang deras. Begitu pula soal target pengunjung, sudah melebihi target awal sebanyak 300 orang.
“Malahan, data reservasi awal 350 orang yang akan hadir. Belum lagi tamu walk in, bisa mencapai 500,” ujarnya kepada Malang Post.
Taman Indie Resto membuka acara malam tahun baru ini mulai pukul 18.00 WIB. Mulai jam tersebut, sudah mulai berdatangan tamu yang menuju area depan untuk registrasi. Yakni menukarkan tanda reservasi dengan uang kuno, yang berfungsi sebagai alat transaksi di area resto. Baik untuk hiburan, seperti naik andong dan games ketangkasan, juga untuk pembelian menu food and beverages.
“Jadi, untuk Rp 1000 ditukar dengan uang sebesar Rp 50. Tetapi uangnya kreasi Taman Indie, ada pecahan mulai Rp 1,” terang dia.
Untuk menyempurnakan nuansa kolonial dan tempo dulu, semua karyawan resto menggunakan kostum tempo dulu. Beberapa, khususnya untuk area depan mengenakan pakaian kompeni, dengan warna dominant coklat serta putih. Layaknya orang tentara Belanda pada jaman dulu.
Begitu memasuki area dalam, tamu resto sudah mulai bisa berbelanja dan menikmati makan malam. Untuk memeriahkan suasana, hiburan tari tradisional dan musik yang menyajikan lagu jaman kenangan juga dipadukan. Sesekali terdapat lagu top 40 yang sedang digandrungi oleh beberapa tamu, khususnya anak muda. “Tamunya kan bermacam-macam, jadi biar bisa dinikmati oleh semua,” tegas dia.
Ketika waktu mendekati pukul 00.00 WIB, menuju tahun 2014, karyawan resto mulai bersiap. Mereka yang sebelumnya melayani tamu, baik memasak dan menyajikan makanan, berkumpul untuk bersiap. Membagikan kentongan kepada tamu resto, sebanyak 200 kentongan. Lalu, karyawan tersebut berputar dengan alatnya masing-masing. Yang unik, beberapa peralatan dapur turut serta. Dipimpin langsung oleh Nanang, berkeliling resto, memasuki area panggung dan seremonial pergantian tahun pun berlangsung. Semua musik dibunyikan, disertai peluncuran kembang api di beberapa titik. (ley/fia)