Lonjakan Elpiji Resahkan Hotel dan Resto

MALANG – Pelaku bisnis perhotelan dan restoran di Kota Malang sudah mulai bersuara mengenai kenaikan harga elpiji non subsidi yang terjadi di awal 2014 ini. Berubahnya harga ini memaksa bisnis yang menggunakan bahan bakar gas ini merevisi harga secepat mungkin, mengikuti perkembangan terbaru agar tidak mengalami kerugian.
Manager Food and Beverages Santika Premiere Hotel Malang, Arif Setiyadi mengakui kaget dengan kenaikan harga yang cukup besar ini. “Malah bukan hanya naik ini sebutannya, berubah harga sebab sebelumnya masih di kisaran Rp 80 ribu untuk ukuran tabung 12 kg,” ujarnya.
Menurut Arif, kenaikan yang terjadi saat ini bahkan mencapai 60 persenan. Mau tidak mau, bisnis makanan dan minuman ikut menyesuaikan pula, serta merubah perencanaan target di tahun 2014 ini. Sebab menurut dia, hotel sudah memiliki rencana sebelum akhir tahun, termasuk perubahan harga menu.
“Jadi untuk sisi food and beverages harus merubah total. Persiapan yang sudah ada kenaikan maksimal 20 persen, ternyata ini tembus sampai separuh lebih,” terangnya kepada Malang Post.
Saat ini rancangan perubahan tarif untuk menu Teracota Café sudah mulai disiapkan agar tidak mengalami kerugian dalam berbisnis. Arif menyebutkan, bahan bakar ini menyumbang 20 persen pengeluaran untuk menyajikan menu. Paling lambat dalam pertengahan bulan ini sudah harus berubah.
Sementara itu Hotel Tugu Malang juga sudah bersiap merubah harga bila kenaikan harga elpiji ini telah mengalami kepastian. “Saat ini jujur baru tahu mengenai kenaikan drastis harganya. Mungkin juga karena naiknya tanpa ada gembar-gembor, hanya sesekali disampaikan dulu itu, walaupun tidak sebanyak ini infonya,” beber Marketing Manager Hotel Tugu Malang, Yudha Susanti.
Dia menjelaskan, saat ini pula untuk kalangan hotel dan masyarakat masih menikmati hari-hari terakhir liburan tahun baru. Sehingga belum terlalu ambil pusing meski mengetahui kenaikan harga elpiji non subsidi, baik untuk ukuran 12 kg dan 50 kg.
“Harga mahal, baik untuk kamar hotel maupun menu resto memang umum terjadi saat high season. Rata-rata masih menggunakan patokan tersebut, untuk patokan bahan bakar masih belum,” terang perempuan berkacamata ini. Kalaupun naik, dia memprediksi di pertengahan Januari ini untuk menu di hotel yang memiliki Restoran Melati tersebut.  
Sedangkan dari pelaku bisnis restoran, Owner Denin’s Super Steak, Nanin Kurniawan menuturkan sangat tercekik dengan harga terbaru elpiji tersebut. Apalagi, restonya membutuhkan 4-6 tabung gas berukuran 12 kg dalam sehari. “Naiknya drastis, begitu tanggal 2 Januari lalu sudah siap-siap merubah bandrol menu,” tuturnya.
Perhitungan bagi pengelola restoran, bahan bakar gas ini menyumbang pengeluaran mencapai 30 persen. Apabila ada revisi harga, maka pengaruhnya bisa menaikkan harga sekitar 5 persen. Belum lagi faktor kenaikan bahan lainnya.
“Bisa jadi menu di Denin’s ini meningkat sampai 20 persen. Sekarang masih proses hitung-hitungan yang pas agar bisnis tetap maksimal. Memang sudah waktunya naik,” imbuh Nanin.
Nanin memang menerima kenaikan harga tersebut, asalkan untuk suplai atau stok elpiji tidak berkurang. Sebab, begitu harga naik kemarin sempat susah mencari stok elpiji 12 kg. (ley/fia)