Kejar Produksi Lima Ribu Karton per Hari

BATU – Tingginya angka wisatawan yang datang ke Kota Batu maupun Malang membuat PT Batu Bhumi Suryatama (produsen Sari Apel Flamboyan) akan meningkatkan kapasitas produksi di tahun ini menjadi 1500 karton per hari di bulan normal dan 5000 karton per hari menjelang lebaran. Hal tersebut disampaikan oleh Owner PT Batu Bhumi Suryatama, Dian Azzahra kepada Malang Post.
Menurutnya, pada 2013 lalu, jumlah produksi sari apel Flamboyan berada pada angka 800 karton per hari di bulan normal yaitu Januari, Februari, Maret, April, Mei, Oktober, November dan Desember. Sementara di bulan peak season menjelang lebaran yaitu Juni, Juli, Agustus, dan September meningkat menjadi 3500 karton per hari. Dalam setiap karton, terdapat 24 cup kecil Sari Apel Flamboyan.
“Ada peningkatan kapasitas, namun tak sampai menambah mesin,” jelas Dian saat ditemui Malang Post di rumahnya. Dituturkannya, peningkatan kapasitas produksi tersebut sejalan dengan pembenahan dari segi sales. Di tahun ini, pembenahan akan dilakukan untuk pasar Aceh dan Medan. Sedangkan pemerataan distribusi akan dilakukan di wilayah Kalimantan.
“Selama ini penjualan di daerah Medan dan Aceh masih kurang maksimal. Untuk daerah Kalimantan yang tersentuh masih Balikpapan dan Samarinda. Nantinya akan diperluas, salah satunya ke Bontang dan Banjar,” rinci dia. Memperkuat pasar luar Jawa, lanjut Dian memang perlu mengingat saat ini pasar penyumbang penjualan terbesar Sari Apel Flamboyan 60 persen berada di luar Malang, dan 40 persen di Malang.
“Kalau di Malang pemainnya sudah banyak, jadi tidak bisa maksimal karena kue sudah dibagi dengan banyak pelaku,” ujarnya. Ibu dua anak ini menambahkan, selain peningkatan sales, tahun ini, Sari Apel Flamboyan juga akan melakukan penyesuaian harga. Namun langkah tersebut akan dilakukan secara perlahan agar tidak memberatkan konsumen.
“Kenaikan-kenaikan bahan produksi membuat kami tak bisa bertahan di harga Rp 13 ribu per karton. Idealnya Rp 14 ribu, akan kami naikkan bertahap. Rp 13,5 ribu di bulan Februari, dan menjadi Rp 14 ribu di Mei mendatang,” urai dia panjang lebar. Perubahan harga LPG menurut Dian menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga. Selain itu, bahan bahan produksi yang diimpor juga turut menyumbang revisi tersebut, diantaranya adalah gelas yang awalnya Rp 80 menjadi Rp 125.
“Gelas plastik menyumbang biaya produksi sebesar 10 persen. Sama besarnya dengan gula. Produksi gelas plastik memang di Indonesia, namun biji plastiknya import. Saat rupiah melemah, secara otomatis biji plastik pun harganya menjadi mahal,” paparnya. (fia/mar)