Percikan Cat Tumpah Jadi Batik Ekspresionis

MALANG - Ragam seni batik kian menghiasi Kota Malang. Setelah sebelumnya batik tulis khas masing-masing daerah, seperti kawasan Celaket dan Bandungrejosari terangkat, variasi batik lainnya kini juga mulai digemari publik. Salah satunya adalah batik ekspresionis yang dipopulerkan Cak Kandar.
Terinspirasi percikan cat tumpah di jalan, seniman bernama asli Sukandar itu lantas menuangkan idenya ke media kanvas dan kain. Hasilnya pun mengejutkan. Percikan cat di media-media tersebut justru memunculkan motif yang unik dengan perpaduan warna warni yang memanjakan mata. “Saya terinspirasi saat melihat cat tumpah di jalan. Percikannya bagus. Seandainya dituangkan di atas kanvas, pasti jadi karya seni bernilai,” tutur Cak Kandar kepada Malang Post.
Berupaya mengenalkan inovasinya kepada publik, Jumat (11/1) kemarin, pria asal Sawojajar itu menggelar demo batik ekspresionis di halaman Taman Rekreasi Kota (Tareko) komplek perkantoran Balaikota Malang. Selain memajang sejumlah karyanya yang sudah dipigura, dia juga membeber sejumlah kain yang baru diwarnai.
Pria yang rambutnya dicat warna merah itu berharap masyarakat bisa mempelajari seni yang dikembangkannya tersebut. “Saya sengaja menampilkannya di sini supaya bisa dinikmati masyarakat. Yang mau mempelajari juga monggo. Karena ini termasuk upaya pelestarian batik, hanya saja dengan metode konvensional,” bebernya.
Untuk menghasilkan kain batik bermotif, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Kain katun primisima yang sudah dikucuri tiga warna berbeda, kemudian dikeringkan. Proses pengeringan inilah yang cukup menyita waktu. Cak Kandar memastikan, setiap kali proses produksi tidak akan menghasilkan motif yang sama.
Seniman eksentrik ini mengaku mulai mendalami batik ekspresionis medio tahun 1990’an silam. Meski awalnya coba-coba, namun akhirnya dia mempelajari tekniknya lebih detail lagi. Pria berkumis lebat ini juga mencari bahan cat apa yang tidak mudah luntur dan awet digunakan. Satu-satunya kendala selama ini adalah tidak tersedianya tempat untuk mengembangkan karya seninya. “Selama ini belum ada bantuan tempat untuk mengembangkan maupun memasarkan produk batik ekspresionis saya,” tuturnya lirih.
Meski begitu, Cak Kandar memiliki sejumlah murid yang mendalami seni serupa. Salah satunya Nanik Verawati, yang kemarin juga ikut memajang karya batiknya. Mahasiswi jurusan Seni Rupa UM itu mengaku kepincut dengan batik ekspresionis yang beraliran abstrak. “Menurut saya unik dan menjadi media untuk berekspresi. Teksturnya menarik dan kombinasi warnanya menarik. Karena itulah saya belajar kepada beliau sejak dua tahun lalu,” papar gadis 20 tahun itu.
Menurut Nanik, tiap motif yang tergambar di kanvas maupun kain memiliki makna khusus. Dia lantas mencontohkan karya lukisannya berjudul ‘Tusnami’ yang dikreasi tahun 2012 lalu. “Motif-motif itu melambangkan perjalanan manusia. Yang dari awal terlahir putih bersih, nantinya akan kembali dalam wujud putihnya tulang,” urainya kepada Malang Post.
Dara kelahiran Probolinggo itu mengaku, belakangan ini sudah sering menerima pesanan batik dari konsumen. Rata-rata motifnya disesuaikan dengan keinginan sang pemesan. Per meternya, Nanik mematok harga Rp 100 ribu. “Kalau orangnya kurus, biasanya 1 meter saja cukup. Kalau agak besar ya 2 meter,” pungkasnya ramah. (tom/nug)