Rupiah Mulai Menguat

PEMERINTAH telah resmi mengeluarkan Undang-undang No. 4/2014 dan Peraturan Pemerintah No. 1/2014 tentang kebijakan pelarangan ekspor tambang mentah.  Bagi Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, aturan ini diterima oleh pasar dan dampaknya adalah rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kemarin (13/1).
Pagi kemarin, dolar AS dibuka dengan posisi kembali menyentuh level Rp 11.000 setelah sempat nangkring cukup lama di level Rp 12.000.
"Ada dua fenomena menarik, di pasar dunia nggak ada gejolak harga tambang yang amat luar biasa dan rupiah menguat loh. Salah satu yang besar ya karena aturan ini yaitu aturan pelarangan ekspor barang tambang mentah dan rupiahnya menguat dengn cukup signifikan. Ini disambut oleh pasar sangat positif," ungkap Bayu saat berdiskusi dengan media di Kantor Kementerian Perdagangan Jalan Ridwan Rais Jakarta.
Bayu menjelaskan aturan pelarangan ekspor yang dikeluarkan pemerintah cukup fair terutama bagi kalangan dunia usaha pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP). Hasilnya kalangan dunia usaha pertambangan menerima aturan yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.
"Karena kejelasan dan kita menggunakan pola intensif dan disintensif bukan permainan mau berapa bulan atau dengan menggunakan kuota yang menimbulkan tanda tanya kalangan usaha. Ini mudah-mudahan positif dan diterima oleh pasar," imbuhnya.
Akan tetapi, dampak dari pelarangan ekspor tambang mentah adalah penurunan laju ekspor tambang di awal tahun 2014. Hal itu karena kalangan pemilik usaha tambang mulai merencanakan tahapan bisnis baru dengan dikeluarkan aturan ini. Akibatnya penerimaan devisa negara agak sedikit melambat.
"Ternyata banyak perusahaan yang sudah menghitung dan bulan Januari mereka lihat dulu perkembangannya lalu melihat bisnis ke depan. Dahulu, kita khawatirkan ada shock, mereka memang menurunkan ekspor penjualan. Dengan situasi ini kita akan menghitung ulang kalau dilihat tidak sebesar loses-nya pada bulan pertama tahun 2014," cetusnya.(dtc/fia)