Daya Beli Masyarakat Malang masih Tinggi

MALANG – Daya tarik Kota Malang untuk menggelar even masih dianggap yang terbaik. Sebagai bukti, Syakaa Organizer memilih menggelar even pertama Islamic Fashion Fair 2014 ini di Malang, dan berlangsung di Skodam V/ Brawijaya, dengan target mencapai 2400 pengunjung.
Ketua Syakaa Jawa Timur, Yosi Al Muzzani menyebutkan, tahun 2014 ini event pertama yang digelar di Kota Malang. “Sebenarnya sudah ada even berlangsung di tahun 2014 di Gresik. Tetapi malah akhir tahun, sebab mulainya masih tahun 2013 lalu,” sebutnya.
Menurut dia, Kota Malang dipilih sebab daya beli masyarakatnya tergolong tinggi. Hal ini terbukti melalu omzet yang digapai selama setahun kemarin mencapai Rp 4 miliar. Jumlah tersebut untuk 4 kali even, baik bertajuk Islamic Fashion Fair maupun Islamic Book Fair. Hal tersebut pula membuat Malang akan mendapatkan 5 kali even selama 2014 ini.
“Untuk jadwal pastinya kapan masih belum dirilis, yang jelas daya beli di Malang masih menjadi yang terbaik dari gelaran Islamic Fair di Jawa Timur,” bebernya kepada Malang Post.
Selain itu, bukti dari animo masyarakat terlihat pula dalam gelaran yang sudah berlangsung selama lima hari tersebut. Yosi mengakui, rata-rata pengunjung per hari mencapai 2000 orang. Jumlah tersebut sesuai target, dan semakin meningkat begitu akhir pekan.
Sementara itu menurut Owner Lavida Collection, Mukhlis Putra, even di Malang sejauh ini menghasilkan omzet sesuai target. Sebab, dia menargetkan Rp 1,5 juta per hari, malahan rata-rata sudah menembus Rp 2 juta per hari.
“Barang yang ditawarkan Lavida ini kan mulai dari Rp 6000 hingga Rp 50 ribuan, jadi jumlah rupiahnya kecil, namun volume barang yang terjual besar,” jelasnya.
Mukhlis sendiri untuk even ini disamping menarget omzet juga memiliki misi lain, dengan mencari reseller untuk produk kaos muslimnya. Usaha dari Gresik ini tengah mencari pasar baru di wilayah Malang.
Hal yang hampir sama juga diakui oleh Owner Mafaza Collection, Mia Mafazah. Menurut dia, setiap hari aneka kerudung yang diusung selama pameran berhasil terjual rata-rata Rp 3 juta.
“Targetnya sendiri masih Rp 2 jutaan. Sebab awal tahun biasanya masih sepi, ternyata ini hasilnya lebih banyak,” urai Mia. (ley/fia)