Konsumsi BBM 2013 Aman Terkendali

MALANG – Penyaluran BBM bersubisidi di Malang Raya berhasil ditekan selama 2013 lalu. Hal tersebut berdasarkan hasil penyaluran masih di bawah patokan dari kuota yang ditetapkan oleh BPH Migas, baik untuk premium maupun solar.
Assistant Manager External Relation Marketing Operation Region V PT. Pertamina, Heppy Wulansari menyebutkan, kuota BBM bersubsidi mendekati kuota. “Sudah di atas 95 persen semua, namun masih bisa terjaga, ketimbang 2012 yang overload,” sebutnya.
Tahun lalu, kuota untuk BBM bersubsidi jenis premium sebesar 439.433 kiloliter, yang tersalurkan sebanyak  425.800 kiloliter. Secara prosentase, konsumsi premium sebesar 97 persen saja. Sementara untuk solar kuota yang dipatok sebesar 152.354. Namun penyalurannya masih menyisakan 1113 kiloliter.
“Penyaluran solar sebanyak 151.241 kiloliter. Hampir mendekati kuota untuk solar ini,” beber dia kepada Malang Post.
Menurut Heppy, hasil tersebut membuktikan Pertamina berhasil menjaga penyaluran BBM bersubsidi di Malang Raya agar tidak overload. Sebab, sempat dikhawatirkan untuk 2013 lalu kembali mengalami kekurangan stok dan menimbulkan keresahan di masyarakat layaknya 2012.
Sekalipun demikian, patokan kuota selama 2013 lalu sudah meningkat 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Kuotanya dari BPH Migas dan Pertamina memang bertambah. Sebab patokannya juga berdasarkan pertumbuhan kendaraan di Jawa Timur yang terhitung tinggi pula,” papar Heppy panjang lebar.
Untuk tahun 2014 ini, Pertamina masih menunggu besaran volume yang ditetapkan. Menurutnya, kemungkinan di akhir Februari baru bisa diketahui. Sembari menunggu, BBM bersubsidi tetap disalurkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, untuk tahun ini Pertamina menghimbau masyarakat tetap melakukan pengisian bahan bakar sesuai dengan rekomendasi pabrikan motor maupun mobil. Sebab, berdasarkan manual kendaraan bermotor, sebagian besar kendaraan bermesin produksi tahun 20-5 ke atas menyaratkan penggunanaa bahan bakar dengan oktan di atas 90. Spesifikasi tersebut terdapat pada bahan bakar Pertamax (oktan 92) dan Pertamax Plus (oktan 95).
“Khususnya untuk mobil yang benar-benar memperhatikan itu. Sementara motor, keluaran 2011 ke atas rata-rata juga menganjurkan penggunaan Pertamax,” jelas dia.
Hal tersebut juga berlaku pada kendaraan bermesin diesel keluaran terbaru, yang berteknologi common rail. “Spesifikasinya bisa ditemui di Pertamina Dex,” pungkasnya. (ley/fia)