Rupiah Melemah, Utang RI Membengkak

MALANG POST - Utang pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2013 sudah mencapai Rp 2.371,39 triliun. Dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp 1.977,71 triliun ada kenaikan sebesar Rp 393,68 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Robert Pakpahan menuturkan penyebab kenaikan tersebut adalah pelemahan nilai tukar rupiah (NTR) sejak pertengahan tahun 2013. Saat ini pun Rupiah sudah mencapai 12.000 per US$.
"Kalau dilihat kok nambah banyak utang, kan tadinya cuman Rp 2.100 triliun, sekarang kok jadi Rp 2.300 triliun. Ini gara-gara ada kira-kira ada US$ 40 miliar yang dalam bentuk valuta asing dan paling banyak dolar," kata Robert, Minggu (2/2/2014).
Padahal menurut Robert, denominasi dolar AS hingga akhir 2013 mencapai US$ 194,55 miliar. Turun dibandingkan utang di akhir 2012 yang mencapai US$ 204,52 miliar. Namun karena nilai tukar rupiah yang melemah, total utang pemerintah dalam rupiah menjadi besar.
"Jadi memang pelemahan kurs yang membuat utang kita nambah. Kalau dihitung dalam dolar sebenarnya utang berkurang," sebutnya.
Ia menilai pelemahan kurs itu sangat sensitif terhadap utang, termasuk cicilannya. Akan tetapi jika utang dalam bentuk Yen ataupun Euro pada tahun 2013 memberikan dampak positif. Karena mata uang tersebut juga melemah lebih dalam.
"Kalau utang dalam bentuk Yen itu melemah, jadi utang berkurang. Sama juga dengan Euro," ujar Robert.
Robert mengaku akan terus berupaya untuk mengurangi porsi utang dalam bentuk valuta asing. Agar ketika terjadinya gejolak nilai tukar, maka dampaknya tidak signifikan.
"Loan itu rata-rata foreign currency, dari situ pasti berkurang porsi. Tapi karena kurs lemah, jadi nambah. Dari situ pasti berkurang. Artinya kebijakan kita mengurangi porsi valuta asing dari pinjaman setiap tahun," paparnya.(dtc/fia)