Bahan Bakar dan Daging Ayam Sumbang Inflasi Malang

MALANG – Kondisi curah hujan yang tinggi selama Januari serta banjir di beberapa wilayah menjadi salah satu faktor penyumbang inflasi sepanjang Januari 2014. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, pada januari 201 telah terjadi inflasi sebesar 0,76 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 7,85 persen.
Kasi Statistik dan Distribusi BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini menjelaskan, dari 8 kota Indek Harga Konsumen (IHK) di Jawa timur, tercatat semua kota mengalami inflasi. Malang termasuk aman karena tidak terlalu tinggi namun juga tidak terlalu rendah.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kediri, 1,28 persen, sedangkan yang terrendah di Banyuwangi yaitu 0,59 persen,” rinci Erny.
Erny melanjutkan, inflasi tertinggi berasal dari kelompok bahan makanan, yaitu 1,67 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 1,22 persen. Untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,31 persen.
“Kelompok sandang hanya 0,55 persen, sedangkan kesehatan 0,05 persen. Pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,08 persen dan transport sebesar 0,25 persen,” imbuhnya.
Adapun 10 komoditas yang mengalami kenaikan harga paling besar adalah bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, telur ayam, sepeda motor, semen, rawon, mobil, tomat, sayur, selada, beras, papaya, dan emas perhiasan.
“Kenaikan LPG 12 kg kendati sebentar, namun pengaruhnya juga terasa di angka inflasi,” tambah perempuan berjilbab ini.
Kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut diredam oleh penurunan harga dari bawang merah, udang basah, angkutan udara, jagung manis, pisang, daun bawang, kelapa, tauge, nangka muda, dan juga sawi hijau.
“Tarif angkutan udara sudah mulai turun karena lewat masa peak season, sehingga maskapai-maskapai tidak lagi memberlakukan harga ambang atas,” katanya.(fia)