Banjir Belum Pengaruhi Harga Kedelai

MALANG – Banjir di sejumlah wilayah sehingga membuat distribusi barang dan panen gagal ternyata belum berpengaruh pada harga kedelai. Hingga saat ini, bahan baku utama tempe tersebut masih berada di kisaran harga Rp 8000 per kg.
Wakil Ketua Primer Koperasi Pengusaha Tahu dan Tempe Bakti Usaha Malang, Choirul Anwar menyebutkan, harganya kini memang sudah jauh lebih murah ketimbang 2013 lalu. “Daripada harga September tahun lalu yang menembus Rp 10 ribu, ya saat ini sudah lebih baik,” sebutnya.
Menurutnya, saat ini harganya naik turun antara Rp 8200-Rp 8500 untuk jenis Bola Biru. Merek tersebut yang secara umum dipilih oleh pedagang, walaupun ada beberapa merek lain seperti Petir Biru atau Indonesia 1. Sebab, harganya terhitung paling murah namun secara kualitas cocok untuk pedagang tahu, tempe maupun keripik tempe.
Kendati harga masih stabil dan jauh lebih murah dari 2013 lalu, namun banyak pengusaha yang tergabung dalam Primkopti masih mengharapkan harga masih bisa turun di kisaran Rp 7000. Pasalnya, harga ini menjadi patokan semester tahun lalu, ketika belum ada gejolak kenaikan harga kedelai. Bahkan, saat itu hampir separuh anggota Primkopti Bakti Usaha terpaksa berhenti sementara untuk produksi.
“Sebanyak 348 anggota sudah beroperasi atau berdagang lagi. Juga sudah ada tambahan lagi, namun masih dalam proses untuk pengesahan,” tegas dia ketika ditemui Malang Post.
Masih sesuai pengakuan Choirul, bila harganya kembali di kisaran Rp 7000an, dia memastikan peningkatan penjualan kedelai. Setelah naik dan turun lagi meski belum maksimal, rata-rata Primkopti yang menaungi pengusaha di Sentra Industri Sanan ini menghabiskan 12-15 ton per hari. Padahal sebelumnya, minimal 18 ton pasti tersalurkan.
Dia berharap, adanya realisasi dari pemerintah, melalui Perum Bulog yang ingin menyediakan stok kedelai dengan harga lebih rendah. Sebab, beberapa saat lalu dari Bulog juga sempat menyuarakan mengenai hal tersebut.
“Saat harga naik dulu Bulog sempat datang melakukan survey, dan akan menyuplai kedelai dengan harga lebih murah. Tetapi sampai sekarang belum ada kabar,” beber dia.
Padahal, harga kembali normal ini juga suara dari anggota Primkopti. Choirul khawatir, bila kelangkaan kembali terjadi maka anggotanya juga mengalami hal serupa seperti 2013 lalu. “Masak setiap tahun harus terulang. Harusnya sudah ada realisasi mengenai bantuan pemerintah, melalui suplai lebih mudah dari Bulog, dan harga lebih murah pastinya,” imbuhnya.
Beberapa waktu lalu, Wakil Ketua Bulog Sub Divre VII Jatim, Gatot Hadiantoro mengungkapkan, bila target pemerintah tersebut sudah diusahakan maksimal oleh Bulog. Hanya saja untuk wilayah Jawa Timur masih kesulitan mencari petani yang bersedia melepas kedelainya dengan harga lebih terjangkau.
“Sehingga solusi ini menjadi target besar Bulog untuk memecahkannya, dan menghindari kelangkaan kedelai nantinya ketika harga melambung,” tandas Gatot. (ley/fia)