Arus Uang Masuk ke BI Capai Rp 7,27 Triliun

MALANG - Kondisi Net Inflow (lebih banyak uang yang masuk dibanding uang keluar) KPwBI Malang selama selama Semester II-2013 tercatat sebesar Rp7,14 triliun, menurun dibandingkan semester sebelumnya yaitu Rp7,27 triliun. Sedangkan jumlah uang yang keluar dari KPwBI Malang (outflow) meningkat dibandingkan semester I-2013, yaitu dari Rp1,93 triliun menjadi sebesar Rp4,36 triliun.
“Dari empat Kantor Bank Indonesia di Jawa Timur, KPwBI Malang satu-satunya yang memiliki kondisi net inflow,” terang Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Dudi Herawadi.
Net inflow semester II-2013 terbesar terjadi di bulan Agustus yaitu sebesar Rp1,45 triliun. Kondisi tersebut didukung arus balik masuknya kembali uang pasca Idul Fitri 1434 H. Sementara itu net outflow terbesar terjadi pada bulan Desember dengan nilai  Rp548miliar. Momen hari libur Natal dan tahun baru menyebabkan transaksi masyarakat yang menggunakan uang kartal mengalami peningkatan pada akhir tahun.
Dudi menjelaskan, selama  tahun 2013, Uang Tidak Layak Edar (UTLE) yang dimusnahkan di KPw BI Malang berjumlah Rp3,97 triliun, mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah Rp1,75 triliun.
“Peningkatan ini terjadi seiring dengan tingginya jumlah uang yang masuk (inflow) pada bulan Januari, Februari, dan Agustus dengan kondisi yang tidak layak edar,” imbuh dia.
Uang palsu (Upal) terjadi trend peningkatan sejak semester I-2013, baik pada jumlah lembar uang maupun secara nominal yang dipalsukan terhadap total inflow. Selama semester II-2013 jumlah uang palsu yang ditemukan KPw BI Malang sebanyak 2.876 lembar. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan temuan uang palsu pada Semester I-2013 yang berjumlah 2.663 lembar.
Pecahan uang palsuyang paling banyak ditemukan adalah pecahan 100 ribu dengan gambar Soekarno-Hatta emisi tahun 2004 yaitu sebanyak 2.263 lembar dari total 2.876 lembar uang palsu di semester II-2013. Jumlah ini  lebih tinggi dari semester sebelumnya yang berjumlah 2.026 lembar. Untuk pecahan 50 ribu emisi tahun 2005 pada Semester II 2013 ditemukan sebanyak 542 lembar meningkat dibandingkan semester I-2013sebanyak 515 lembar, sementara untuk pecahan-pecahan lainnya proporsi pemalsuan bilyet tidak terlalu signifikan.
Menyikapi peningkatan yang terjadi terhadap jumlah uang tidak layak edar dan temuan uang palsu, KPwBI Malang melakukan peningkatan upaya preventif dan represif. Upaya preventif yang dilakukan meliputi peningkatan pengenalan dan pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui kegiatan edukasi dan publikasi dengan tujuan agar masyarakat dapat dengan mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang.
“Sehingga apabila masyarakat menemukan uang yang diragukan keasliannya dapat segera melaporkan kepada Bank Indonesia atau kantor Kepolisian terdekat,” ucap Dudi.
Selain edukasi mengenai ciri-ciri keaslian uang rupiah, Bank Indonesia juga melakukan kegiatan edukasi dan publikasi mengenai bagaimana  cara memperlakukan fisik uang dengan baik kepada masyarakat dengan harapan uang lusuh yang ditarik dari masyarakat semakin menurun.
“Adapun secara represif dilakukan melalui kerjasama dengan pihak penegak hukum khususnya dalam menangani kasus kejahatan pemalsuan uang,” tutur dia.(fia)